Besar Bocah Penderita Luka Bakar Kehabisan Biaya untuk Dirawat di RS

, , Leave a comment

SUARA tangis bocah merebak hingga koridor depan ruangan Teratai, RSUD Ben Mboi Ruteng, Jumat (2/10). Beberapa perawat tampak sibuk melayani pasien di rumah melempem milik Pemkab Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu.

Dari balik pintu kamar bagian III terlihat seorang bocah menggeletak lemah. Pada wajahnya terpasang kedok oksigen. Selangnya tersambung pada sebuah tabung di sisi ranjang. Cairan infus pada botol yang terbengkalai pada sisi ranjang juga disuntikkan pada tangan kirinya.

Putri, bocah empat tahun pokok Desa Kakor, Kecamatan Ndoso, Kabupaten Manggarai Barat, terus menangis. Tumpuan, wajah, dada hingga perut, lengah, dan pahanya mengalami luka parah.

Baca serupa: Tokoh Masyarakat Solo Bagikan Suplemen untuk Wartawan

Tidak hanya putri, Neira, adiknya, juga mengalami luka di dalam wajah, punggung, dada, dan tangan. Namun, kondisinya tidak separah kakaknya yang beberapa hari belakangan ditambah lagi dengan sesak nafas.

“Kondisi kakaknya ini lebih parah. Luka Bakar di seluruh tubuh dan mulai sesak nafas. Kami usahakan untuk rawat kakaknya dulu baru rawat adiknya, ” ujar Lusia Diantri Heni, 23, ibu kedua bocah itu

Lusia menuturkan musibah yang dialami Putri dan Neira berlaku pada Jumat malam, dua minggu lalu.

Seperti biasanya, menjelang malam, mereka menyalakan lampu pelita. Lampu yang terbuat sebab kaleng bekas dan berbahan bakar minyak tanah itu menjadi sumber penerangan bagi warga Desa Kakor dan sekitarnya karena belum dialiri listrik PLN.

Sekitar pukul tujuh malam, ayah mereka, Marselinus Gadu, 28 menambahkan patra tanah ke dalam kaleng lampu. Aktivitas sang ayah menarik mengindahkan kedua anaknya yang sedang suka bermain.

“Putri dan Neira mendekati lampu. Tiba-tiba lampu itu meledak. Minyak tanah diikuti nyala api seakan-akan tersiram ke tubuh kedua anak kami, ” ungkap Lusia mengisahkan awal kesusahan yang dialami kedua putrinya.

Percikan minyak tanah disertai nyala api menyulut tubuh jelita kedua bocah kakak beradik itu. Ayah-ibu mereka berusaha mencari uluran tangan dengan melarikan kedua bocah ke Puskesmas Tentang.

Setelah mendapat penanganan darurat, petugas Puskesmas langsung merujuk pasien ke RSUD Ben Mboi Ruteng.

Di rumah sakit itu, Ananda dan Neira terdaftar sebagai penderita umum karena tidak memiliki BPJS atau KIS. Satu pekan berlalu, kondisi kedua bocah belum serupa membaik. Sedangkan kedua orangtua itu sudah kehabisan biaya.

“Saat itu, kami sudah tidak punya uang sama sekali. Kami minta keluar dari rumah lara karena tidak sanggup lagi memenuhi rumah sakit, ” tutur Lusia.

Pihak rumah sakit, lanjut dia, mengizinkan mereka mendatangkan kedua putrinya keluar dari panti sakit itu setelah mengetahui dalih kehabisan biaya.

Muncul dari rumah sakit, Putri digendong ayahnya dan Neira digendong ibunya. Mereka berjalan kaki karena untuk sewa ojek pun, tidak memiliki uang lagi.

Rencananya, saat itu, Marsel dan Lusia langsung kembali ke kampung agar anaknya menjalani perawatan alternatif di dukun kampung. Namun, mereka dilarang oleh keluarga di Nekang, tak jauh dari rumah sakit, yang kemudian bersedia menampung mereka.

Mereka kemudian meminta pertolongan biarawati Katolik di Susteran Hamba-hamba Ekaristi untuk memberikan pengobatan tengah kepada kedua bocah itu. Dekat sepekan berada di luar panti sakit, kondisi korban bukannya positif.

Putri mulai sesak nafas dan lukanya bernanah. Begitu pula Neira, luka-lukanya yang bernanah mengeluarkan aroma tidak sedap.

Pada Kamis (1/10), masyarakat yang menampung keluarga pasien tersebut menginformasikan kepada Bripka Andi Dharma Elim Sallata, anggota Polres Manggarai yang bertugas sebagai Bhabinkamtibmas dalam wilayah itu.

Petugas yang dikenal ringan tangan ini langsung mendatangi biara. Ia menemui Putri dan Neira dalam kedudukan memprihatinkan. Bripka Dharma langsung menodong agar kedua bocah itu dikembalikan ke RSUD Ben Mboi Ruteng.

Berkali-kali kedua orangtuanya berusaha menolak dengan alasan tak punya biaya lagi. Namun, Bripka Dharma memberanikan diri menjadi penjamin agar pihak RSUD bersedia menyelenggarakan kedua bocah itu hingga segar.

“Saya sempat menangis melihat kondisi Putri dan Neira. Saya ingat anak saya dengan masih kecil juga. Tidak tega kalau dibiarkan menderita. Saya bilang, ‘Bapa, k saya siap penjamin asalkan rumah sakit bisa rawat mereka dengan baik datang sembuh’, ” tutur Bripka Dharma.

Pada hari itu juga, Putri dan Neira diangkut ke rumah sakit. Di IGD RSUD Ben Mboi Ruteng, tabib sempat bilang, sebelumnya kedua anak obat sudah keluar dari rumah melempem tersebut karena tidak mampu menanggung perawatan.

“Mereka tanya, kalau masuk lagi ke sini, siapa yang jadi penjamin untuk bayar biaya rumah sakit? Aku bilang, saya penjaminnya. Saya bertanggung jawab. Saya yakin, ada banyak orang baik di belakang hamba yang tergerak hatinya untuk membangun, ” tutur Dharma.

Namun, hari itu, pihak RSUD hanya menerima Putri untuk menjalani rawat inap. Sedangkan Neira cuma diperban dan dianjurkan untuk menjalani rawat jalan saja. Padahal, suasana Neira pun terlihat parah, meski tidak separah kakaknya.

Dengan berat hati, Bripka Dharma dan kedua orangtua pasien membuntuti anjuran dokter. Putri rawat inap, Neira rawat jalan dan dititip di rumah warga yang sejak awal menampung mereka.

Pada Jumat (2/10), donasi buat Putri dan Neira perlahan terkumpul. Antara lain dari Kapolres Manggarai AKBP Mas Anton Widyodigdo & beberapa komunitas pemuda di Ruteng.

Bripka Dharma pula meminta pihak RSUD agar Neira juga mendapatkan perawatan inap.

Permintaan tersebut dipenuhi bagian RSUD dengan mengirim ambulans buat menjemput Neira. Kini Neira & Putri sama-sama mendapat pelayanan pelihara inap di RS milik Pemkab Manggarai.

Sementara itu, Direktur RSUD Ben Mboi Ruteng Veronica Imaculata Djelulut mengaku gres mengetahui adanya pasien yang mengambil keluar dari rumah sakit sebab tidak mampu membayar biaya pengobatan. Namun, ia mengatakan hal itu bisa terjadi karena pasien tunggal yang meminta untuk keluar sekalipun kondisinya masih parah.

“Pasien keluar atas permintaan sendiri, ” kata mantan Kadis Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat itu.

Terkait pembiayaan, lanjut dia, khsusus untuk pasien asal Kabupaten Manggarai, ada dana jaminan kesehatan tubuh daerah (Jamkesda) yang disiapkan buat pasien tidak mampu.

Sedangkan untuk Putri dan Neira, ia tidak ingin berkomentar sebab itu terkait kebijakan daerah asal pasien tersebut yakni Pemkab Manggarai Barat.

“Kalau pembiayaan pasien, kita di Manggarai memiliki dana. Dana Jamkesda. Tapi kan pasien dari luar daerah. Saya tidak bisa omong kebijakan negeri kabupaten lain to, ” katanya.

Hingga saat itu, orangtua Putri dan Neira sedang membutuhkan bantuan untuk biaya pembelaan, pengobatan, hingga biaya hidup semasa merawat kedua buah hatinya.

Bagi pembaca yang tergerak hati, silahkan menghubungi nomor telephon Bripka Darma 082144161359 atau mengirimkan donasi melalui rekening BNI bagian 0695215743 atas nama Andi Dharma Elim Sallata.

Sedangkan untuk warga terdekat, bisa mengantar langsung sumbangannya ke Biara Susteran Hamba-Hamba Ekaristi di Jalan Nasution Nekang, Kelurahan Watu, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai. (OL-1)