Catat! Perlindungan Konsumen saat Pandemi Covid-19 Lemah

, , Leave a comment

WE Online, Jakarta

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Ira Aprilianti, mengatakan bahwa perlindungan konsumen zaman meluasnya pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) lemas.

Lemahnya perlindungan konsumen dapat dilihat dari, salah satunya, melonjaknya harga barang penting dengan akhirnya menyebabkan terjadinya panic buying . Pada zaman pandemi saat ini, komoditas pangan, masker, hand sanitizer, dan obat-obatan tercatat ke dalam barang penting.

Baca Juga: Corona Mengganas, CIPS Minta Pemerintah Utamakan Ketersediaan dan Akses Terhadap Keinginan Pokok

“Menyikapi kondisi ini, pemerintah idealnya menetapkan fokus pada kebijakan yang mengutamakan ketersediaan barang di pasar serta mengutamakan kelancaran arus barang dan juga kelancaran proses distribusinya. Situasi ini penting terutama untuk mereka yang paling terdampak oleh kritis ini, ” jelasnya di Jakarta, Senin (6/4/2020).

Pangsa menyatakan, pandemi Covid-19 paling merugikan masyarakat kalangan bawah. Hal ini juga dapat dilihat dari bukti harga pangan, contohnya beras. Sejak 31 Desember 2019, tidak tersedia perubahan harga di pasar modern pada beras kualitas bawah II maupun super I, yang per masih Rp15. 650 dan Rp20. 750 (per tanggal 06/04/2020).

Namun, ada kenaikan nilai cukup signifikan di pasar tradisional. Sejak 31 Desember ke hari ini, Beras Kualitas Bawah II naik 6, 51%, sedangkan Padi Kualitas Super I naik 5, 50%. “Hal ini menunjukkan konsumen pasar tradisional, terutama yang menggunakan barang inferior, Beras Kualitas Kolong II, lebih rentan terhadap transisi harga, ” tegasnya.

Ira menambahkan bahwa konsumen Nusantara memang belum melek dan belum memahami hak-haknya sebagai konsumen. Ruang Keberdayaan Konsumen (IKK) pada 2018 adalah 40, 41. Angka itu mencerminkan konsumen hanya tahu mau hak dan kewajibannya, tetapi belum mampu untuk menggunakan dan memperjuangkan hak-haknya.

Rendahnya IKK disebabkan oleh beberapa hal, laksana rendahnya pemahaman tentang regulasi dengan menjelaskan hak dan kewajiban konsumen, rendahnya pemahaman tentang institusi perlindungan konsumen, perilaku pembelian yang kurang cermat, dan keengganan konsumen untuk menyampaikan komplain.

“Dengan adanya pandemi Covid-19, pemerintah telah memetakan penurunan signifikan terhadap target pertumbuhan PDB pada 2020. Ini sangat dimungkinkan dengan melemahnya penggunaan Indonesia di tengah pandemi ini, yang sebagian diakibatkan oleh naiknya harga barang-barang di pasar. Kemajuan harga-harga, terutama pada barang penting, tentu saja menekan pendapatan riil masyarakat, ” pungkasnya.

Ada jutaan anak yang terkendala belajar online karena keterbatasan akses internet. Ada banyak gaya medis yang tidak dibekali APD lengkap. Mari kita sama-sama sukseskan kampanye #AmanDiRumah untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Donasi Anda akan disalurkan untuk membantu logistik APD dan fasilitas pendidikan online anak-anak Indonesia. Informasi soal sumbangan klik di sini .