Daya tarik Jalan Prasejarah Golo Mori Takkan Terlupakan

, , Leave a comment

GOLO Mori, obyek wisata prasejarah yang menyimpan misteri hingga saat ini menjadi rebutan investor berinvestasi. Banyak lokasi desa di patok-patok menuju ke bukit kecil di wilayah itu secara tulisan nama kepemilikan, umumnya daripada luar Flores bahkan warga ganjil.

Ruas jalan menuju Desa Golo Mori di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) NTT, masih dalam kondisi bebatuan dan rusak parah belum beraspal. Batu-batu berukuran besar tumpah dalam jalan. Kontur jalannya juga masih naik turun sehingga menyulitkan para pengendara untuk menuju ke lokasi Desa Golo Mori.

Sebelum akses jalan itu dibuka, warga berjalan kaki menuju ke desa lainnya bahkan hingga ke Labuanbajo. Mereka sangat beruntung bila menemukan perahu nelayan jika menuju ke Labuanbajo dengan tantangan pusaran arus Selat Molo.

Pemandangan memang begitu mengasikan dalam hamparan tumpuhkan bukit-bukit kecil serupa bukit teletubies. Ruas jalan menuju Golo Mori berhadapan persis tak jauh dari arah pulau Rinca yang menjadi milik Balai Taman Nasional komodo (BTNK), menyimpan hewan purba komodo, kakatua jambul kuning, tikus endemik flores, monyet, rusa kerbau, musang babi, kuda garang dan masih banyak lagi.

Bagai pasukan khusus mata-mata di angkasa, burung bangau berhimpun beterbangan mantau ikan kecil berlaku di permukaan air. Seekor burung elang terbang tinggi mengangkasa, berpatroli mencari mangsa. Sunguh indah di bentangan padang shawana Golo Mori Pulau Rinca yang di batasi selat Molo lebih kurang 70 an meter saja.

“Kalau dibilang sangat indah, sungguh luar biasa. Gemuruh derasnya tirta Selat Molo bak banjir bandang kedengaran hingga ke arah darat sebelum menuju ke desa Golo Mori. Sayangnya alamnya belum menunjang, ruas jalan masih bebatuan, ” ujar Muhamad Teofilus Kadir, 57, tokoh Masyarakat Golo Mori, Sabtu (23/1)

Kami menjejaki perjalanan mengunakan motor trail. Tahu berhenti di tengah jalan pokok melihat migrasi rusa dari tanah Rinca menepi ke daratan desa Golo Mori, belum lagi di daratan itu hidup liar hewan komodo. Kami harus berwaspada.

Kadir Teofilus menyebut namanya Golo Mori memang sangat istimewa. Dalam bahasa setempat, Golo (artinya bukit), Mori artinya(Tuhan) kalau disimpulkan menjadi bukitnya Tuhan. Golo mori semasa itu menjadi tempat pencarian hewan yang diburu kemudian untuk dipelihara.

“Banyak pula kerbau, kuda, anjing hidup pada alam liar. Konon cerita tempat ini menjadi satu satunya medan perburuan para raja dari bervariasi penjuru yang datang berexspansi serta menemukan tempat ini sebagai ladang perburuan dan peristirahatan, ” terangnya.

Muhamad Teofilus ialah nama campuran kristen muslim, lantaran perpaduan orang tua dulu. Muhamad menuturkan bukti dari saman pra sejarah itu adanya pasar tradisional di dua lokasi, satu dalam kampung Warloka dan di wilayah Golo Mori. Pasar ini, kata pendahuluan dia masih memberlakukan barter atau barang di tukar dengan bahan.

“Kalau pasar itu masih ada dan berada langsung persis di bibir pantai. Buat kampung Warloka pasarnya setiap keadaan Selasa, sedangkan kamping Golo Mori berlangsung pada setiap Sabtu, ” terang Muhamad.

Bahan Lain adanya arca, batu balok, tempat tidur bantal yang melempem. Periuk tanah untuk masak pula masih ada. Sayangnya barang-barang pusaka itu sebagian raib di bawa orang tak di kenal. Batu Balok dan bongkahan lainnya diduga telah dijual oknum yang tak bertanggung jawab.

“Tumpuhkan batu balok, baik di pedoman timur Rinca dan diatas tanah Warloka masih ada, ” katanya.

Syahrif Elang aktivis muda Warloka, kepada Media Nusantara mengatakan, daratan wilayah Warloka maupun Desa Golo Mori masih terdapat banyak peninggalan-peninggalan zaman purba atau zaman batu. Masih ada sundal balok dengan corak dan karya yang sulit dikenal butuh penelitian.

Lokasi di tanah Warloka itu sendiri sudah menjadi objek wisata yang ditata oleh Dinas Pariwisata. Di lokasi tersebut terdapat tempat tidur dan lapik guling yang telah membatu, ada tungku tembikar maupun peralatan masak lainnya yang sudah membantu.

Syahrif menyebutkan, baik menuju Warloka maupun Desa golo Mori, kondisi ruas jalan masih bebatuan belum diaspal. Selain itu, lebih menyulitkan lagi bagi warga setempat ketiadaan pasokan air minum suci.

“Kami berharap kala terjadi G-20 yang rencananya hendak diselenggarakan di wilayah itu mampu membawa perubahan besar bagi penduduk setempat, ” harapnya. (OL-13)

Baca Juga: Erick Diharapkan Bawa Ekonomi Syariah Hingga Skala UMKM