Derek Harga Sayuran, Kelompok Wanita Tani Buka Pasar Tani

, , Leave a comment

GABUNGAN Wanita Tani (KWT) Usaha Maju Dusun Jojogan, Desa Mondoretno, Temanggung berinisiatif membentuk pasar tani. Keberadaan pasar dimaksudkan untuk meningkatkan perekonomi masyarakat Desa Mondoretno selama pandemi lantaran hasil penjualan dari produk pertanian turun drastis.

Pemimpin KWT Usaha Maju, Ariyati, mengutarakan, Pasar Pagi merupakan inisiatif KWT untuk mewadahi hasil pertanian sayuran dari warga daerah itu bilamana harga sayuran tengah anjlok. Semasa pandemi korona, harga sayuran dengan cenderung rendah amat menyusahkan masyarakat yang sebagian besar adalah petani sayuran.

“Kita bekerja untuk menjualnya. Ini seperti jogo tonggo, tapi bukan sayuran digratiskan. Tapi dengan mendorong warga membeli produk sayuran tetangganya sendiri, ” kata Ariyati, Minggu (27/9).

Novita Pristiani, salah seorang anggota KWT menambahkan biasanya para pedagang sayuran keliling atau natural disebut sebagai ‘eyek’ bisa longgar masuk dan berjualan di Daerah Mondoretno. Namun selama gelaran Rekan KWT, eyek tidak diperbolehkan mengikuti desa. Sebab masyarakat diharuskan berbelanja produk sayuran dari tetangganya tunggal.

Dijelaskan Novita, itu merupaka gelaran pasar yang keenam. Gelaran pertama diselenggarakan pada 2 Agustus. Pasar KWT digelar tiga kali dalam sebulan. Yakni di dalam Minggu Kliwon, Minggu Legi, serta Minggu Pahing. Jumlah pedagang yang membuka lapak di pasar tersebut ada 28 orang.

“Khusus pengurus KWT hanya menjual sayuran. Lainnya makanan pakaian serta kerajinan, ” kata Novita.

Pada awal penyelenggaraan pasar tiap anggota KWT membayar iuran masing-masing sebesar Rp50 ribu jadi modal awal. Selanjutnya tiap lapak memberikan kontribusi Rp 5 seperseribu setiap kali gelaran pasar. Saat ini omzet dari Pasar KWT mampu mencapai Rp4 juta setiap kala gelaran pasar.

“Kami tidak menyediakan plastik untuk memendam sayuran, tapi menggantinya dengan tas dari kertas bekas yang dibuat sendiri oleh anggota KWT, ” lanjutnya.

Kepala Desa Mondoretno, Beni Sujono, mengatakan, semasa harga sayuran jatuh, petani amat kesusahan. Namun tidak ada sandaran dan upaya apapun dari negeri dawerah setempat untuk membuat situasi menjadi lebih baik. Bahkan penuh sayuran yang terbuang sia-sia pasal harga terlalu rendah.

“Biasanya sayuran dari desa tersebut dijual ke Jakarta, Yogyakarta, dan Semarang dengan volume penjualan mulia ton per hari dari bervariasi jenis sayuran. Nilainya sekitar Rp 6 juta. Selama pandemik, sayuran tidak bisa dikirim ke sungguh daerah dan petani tidak memiliki modal tanam, sehingga harus berhutang, ” kata Beni Sujono.

Keberadaan pasar KWT tersebut, katanya, sedikit membantu menaikan makna jual sayuran. Umpamanya, sebelum pandemik harga cabai dari petani menyentuh Rp15 ribu per kilogram (kg). Saat awal pandemi harga berniaga cabai di kisaran Rp1500-Rp2000 bohlam kg. Setelah ada gelaran, saat ini harga cabai menjadi Rp5 ribu per kg.

baca juga: Kartini Juga Menyelenggarakan Ekonomi Perempuan

Komoditas brokoli, tomat, dan terung jatuh sampai Rp1000 per kg di awal pandemi. Di pasar KWT bisa terjual Rp2500 bagi kg. Harga labu siam saat ini Rp500 per kg, saat pangkal pandemi hanya laku Rp300 mulai kg.

“Meskipun makna sayuran sudah mulai naik setelah ada gelarab pasar ini, tetapi masih belum bisa membuat ekonomi petani desa kami bangkit, ” pungkas Beni. (OL-3)