Gelombang Unjuk Rasa Marak di Sebanyak Kota Besar Myanmar

, , Leave a comment

RIBUAN pengunjuk rasa turun ke jalan dalam kota-kota besar Myanmar untuk menyuarakan anti-kudeta pada Minggu (14/2).

Sebelumnya dalam suasana mencekam, masyarakat Myanmar melakukan patroli serta menolak keberadaan tentara yang menguraikan undang-undang yang melindungi kebebasan.

Sejumlah mhasiswa teknik menyelenggarakan aksi long march melewati sentral Kota Yangon, kota terbesar, secara mengenakan pakaian putih.

Para mahasiswa membawa sejumlah plakat yang menuntut pembebasan mantan pemimpin Aung San Suu Kyi, yang telah ditahan sejak militer Myanmar menggulingkan pemerintahan terpilih pada 1 Februari 2021 lalu.

Konvoi ribuan pengendara sepeda mesin dan mobil juga melewati ibu kota Naypyitaw, dengan pengunjuk rasa memegang gambar wajah Suu Kyi.

Penahanan Suu Kyi, dengan tuduhan mengimpor walkie-talkie, bakal berakhir pada hari Senin (15/2). Pengacara Suu Kyi, Khin Maung Zaw, tidak dapat dihubungi buat dimintai komentar tentang apa dengan akan terjadi.

Bertambah dari 384 orang telah ditahan sejak kudeta, kata kelompok pemantau Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Kebijakan, dalam gelombang penangkapan yang sebagian besar dilakukan setiap malam.

Banyak pengunjuk rasa di Yangon membawa tanda-tanda yang menyerukan kepada pihak berwenang untuk menahan penculikan orang di malam hari.

Pada Sabtu (133/2) malam, warga bersatu malam untuk berpatroli di jalan-jalan di Yangon dan kota kedua Mandalay. Patroli dilkakukan uncuk mencegah aksi penangkapan dan tindak kejahatan umum pasca-junta militer membebaskan ribuan tahanan yang terlibat kasus kriminal.

Di lingkungan yang berbeda, gabungan yang sebagian besar pria muda menggedor panci dan wajan untuk membunyikan alarm saat mereka melacak orang yang mencurigakan.

Pada Sabtu (13/2) malam, prajurit memberlakukan kembali undang-undang yang mewajibkan orang untuk melaporkan pengunjung yang bermalam ke rumah mereka.

Militer juga menangguhkan undang-undang yang membatasi pasukan keamanan untuk menahan tersangka atau menggeledah kekayaan pribadi tanpa persetujuan pengadilan, & memerintahkan penangkapan pendukung dari protes massal. (Ant/OL-09)

Kudeta tersebut telah memicu protes jalanan terbesar selama lebih dari kepala dekade dan telah dikecam oleh negara-negara Barat.

Amerika Serikat mengumumkan beberapa sanksi kepada para jenderal yang berkuasa dan negara-negara lain juga mempertimbangkan tindakan-tindakan tersebut