IKM Siap Produksi APD dan Kedok

, , Leave a comment

Kementerian Perindustrian mengungkapkan sejumlah pelaku industri kecil dan membuang (IKM) di dalam negeri jadi memproduksi masker dan alat pelindung diri (APD) untuk perawat yang menangani pasien positif virus korona atau covid-19.

IKM tersebut antara lain tersebar dalam Jawa Barat, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Banten, Jawa Timur & Nusa Tenggara Barat.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih, mengatakan dari enam daerah tersebut terdapat 50 IKM menyatakan mampu memproduksi APD maupun masker. Hal itu dilihat setelah Kemenperin mengeluarkan kuesioner kesiapan IKM dalam penyediaan APD bagi gaya medis.

“Kapasitas penerapan masker dari masing-masing IKM itu berkisar antara 50 hingga 500 lembar per hari. Sedangkan, buat kapasitas produksi APD, mereka mampu membuat 20-250 buah per keadaan, ” kata Gati melalui fakta tertulisnya, Senin (6/4).

Kendati demikian, baru terdapat 55% IKM memahami standar pembuatan kedok. Sehingga, 77, 5% IKM mengaku mampu memproduksi masker dan APD yang tidak berstandar medis.

Karena itu, Dirjen IKMA mendorong para pelaku IKM biar dapat memproduksi masker nonmedis, memikirkan kebutuhannya saat ini sangat mulia dan persyaratannya yang tidak terlalu memberatkan sehingga pelaku IKM dinilai mampu memproduksinya.

“Untuk masker nonmedis harus dibuat dua lapis supaya bisa menyaring dengan lebih maksimal. Jadi, IKM membuatnya dengan bebas dan tidak ada persyaratan untuk izin edar, sebab yang harus ada izin & memenuhi SNI adalah masker medis, ” tutur Gati.

Upaya tersebut dinilai dapat menjadi solusi untuk mempertahankan bisnis IKM dalam negeri di tengah perihal mewabahnya covid-19 dengan memanfaatkan kain yang dimiliki atau bermitra dengan penyedia tekstil.

Gati juga mengatakan agar para IKM melakukan self declare atau membuktikan kegunaan dari produk masker yang dibuat dan memaparkan bahwa kedok yang dibuat merupakan masker nonmedis.

“Kalau mereka mendeklarasikan anti-bakteri, tahan air dan lain-lain, ini juga harus dibuktikan zaman kalau kain yang mereka gunakan memang memenuhi syarat mutu tersebut, ” ungkap Gati.

Saat ini beberapa IKM berkecukupan membuat produk yang dibutuhkan untuk penanganan covid-19. IKM tersebut sedang mendapatkan perhatian dari dinas terpaut untuk bisa dibelanjakan anggaran. (E-3)