Jelang Imlek, Pemprov DKI Pantau Ketersediaan Pangan

, , Leave a comment

DINAS Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta melakukan pemantauan terkait secara ketersediaan dan harga 10 pangan strategis ditambah dua komoditas tambahan. Pemantauan ini dilakukan untuk menguatkan pangan tersedia dan harganya tetap menjelang Imlek.

Mengenai 10 komoditas strategis tersebut yakni, beras, daging sapi, daging ayam, telur ayam ras, bawang merah, bawang putih, cabai rawit abang, cabai merah keriting, gula pasir dan minyak goreng. Sementara, untuk komoditas tambahan meliputi, daging babi dan ikan bandeng

Baca juga: Pers Sangat Dibutuhkan di Tengah Pandemi

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Suharini Eliawati, mengatakan beberapa komoditas pangan yang diprediksi mengalami kenaikan jarang lain, cabai rawit merah & daging sapi.

“Cuaca hujan saat ini sangat besar pada produksi cabai nasional. Sedangkan, untuk daging sapi disebabkan meningkatnya harga dari negara asal, ” ujarnya, Rabu (10/2).

Eli menjelaskan, daging babi dan ikan bandeng menjadi komoditas perempuan cantik saat perayaan Imlek sehingga secara sendirinya pasokan daging babi dan ikan bandeng di Jakarta akan menyesuaikan dengan permintaan pasar.

“Masyarakat tidak perlu kacau kedua komoditas itu dipastikan lulus. Dinas KPKP DKI Jakarta juga berkolaborasi dengan Badan Ketahanan Pangan Kementan RI menggelar pangan murah yang fokus pada 10 bertabur strategis, ” terangnya.

Menurutnya, pemantauan dan pengawasan mengikuti pengambilan sampel ikan bandeng dikerjakan di Pasar Rawa Belong yang menjadi pasar dadakan dan berlaku hanya saat menjelang Imlek.

Pemantauan mencakup jumlah penyalur, asal ikan, volume, termasuk mengabulkan pengujian sampel ikan on the spot dengan mobil laboratorium putaran.

“Kami ingin menganjurkan rasa aman bahwa ikan bandeng yang dijual bebas dari formalin. Kami juga melakukan pengawasan dan pengambilan sampel ikan di Pasar Grosir Ikan Muara Angke dan Pasar Ikan Modern Muara Mutakhir, ” ungkapnya.

Ia menambahkan, pengawasan untuk produk peternakan dilakukan dengan pengambilan sampel dalam Rumah Potong Hewan (RPH), Vila Potong Hewan Unggas (RPHU), serta swalayan.

“Laboratorium Kesehatan tubuh Masyarakat Veteriner telah menyiapkan tes mikrobiologi dan kimia, serta ulangan eber, ” tandasnya. (OL-6)