Kasus Kekerasan Kepada Perempuan dan Bujang di Tasikmalaya Meningkat

, , Leave a comment

JAWATAN Sosial Pemberdayaan Masyarakat dan Daerah, Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak serta Keluarga Berencana (DPMDP3AKB) Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, mencatat terdapat 55 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak pada 2020. Jumlah ini mengalami peningkatan dibanding tahun berantakan.

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada DPMDP3AKB Kabupaten Tasikmalaya, Yayah Wahyuningsih mengatakan,
tahun lalu, kejadian serupa mencapai 50 kasus.

“Kasus kekerasan terhadap anak setiap tahun mengalami peningkatan tiba dari 2017 tercatat 47 kasus, 2018 turun kasus, dan 2019 kembali mengalami kenaikan mencapai 50 kasus. Tahun ini, tercatat 55 kasus, ” katanya, Minggu (15/11).

Yayah mengatakan, terpaut kasus kekerasan terhadap perempuan & anak didominasi kasus kekerasan seksi. Diyakini, masih banyak warga dengan tidak mau melaporkan karena aib. Namun, kekerasan yang paling berpengaruh terhadap anak di bawah umur dan kekerasan dalam rumah nikah (KDRT).

“Kekerasan rani dalam rumah tangga banyak penyebabnya, mulai dari masalah ekonomi, kemiskinan, budaya, pendidikan, dan perselingkuhan beserta perceraian. Upaya untuk pencegahan kebengisan terhadap perempuan dan anak itu harus dilakukan dengan koordinasi antarkepala desa, tokoh agama, tokoh bangsa, dan tokoh pemuda supaya membangun dalam penanganan hingga pendampingan peristiwa termasuk pembinaan dilakukan oleh forum anak daerah, ” ujarnya.

Menurutnya, pencegahan sekarang itu masih terus dilakukan sebagai cara mengurangi terjadinya kekerasan terhadap hawa dan anak supaya nantinya disampaikan oleh para tokoh agama supaya mereka menjadi panutan yang mampu disosialisasikan ke masyarakat agar kebengisan bisa menurun.

Tatkala, Ketua Komisi Perlindungan Anak Nusantara Daerah (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya, Ato Rinanto mengungkapkan kekerasan terhadap anak sekarang ini lebih banyak & didominasi oleh pelecehan seksual. Dalam tengah pandemi Covid-19 kasus kebengisan terhadap anak naik cukup istimewa terjadi setiap tahun dan tersebut harus adanya perhatian dari seluruh pihak.

“Kalau model penyelesainnya hanya normatif, artinya kudu segera dikembalikan dengan cara gagasan dan ide-ide kreatif terutama cermin pikir inovatif. Dalam penyelesaian tersebut harus bisa mengkolaboraskan pola koordinasi yang baik antara lembaga utama dengan yang lainnya agar bisa mencegah kekerasan terhadap anak supaya mengalami kenaikan setiap tahunnya, ” pungkasnya. (R-1)