Lakon Fitnah Terhadap Aisyah Istri Rasul (Bagian 1)

, , Leave a comment

Aisyah istri Nabi SAW pernah diterpa fitnah.

 

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA — Para-para istri Nabi Muhammad SAW adalah perempuan-perempuan yang mulia. Kalangan ahli tarikh menjuluki mereka ummahatul mukminin atau ‘bundanya orang-orang beriman. ‘

Di antara para-para istri Rasul SAW ialah Aisyah. Ia merupakan putri Abu Menjilat ash-Shiddiq, sahabat yang menemani Nabi SAW kala hijrah dari Makkah ke Madinah.

 

Pada perjalanan hidupnya sebagai istri Rasul SAW, Aisyah mengalami suka-duka. Kedukaannya yang terekam sejarah ialah kala dirinya diterpa fitnah.

 

Kisah ini dituturkan sendiri oleh Aisyah, seperti diriwayatkan dalam Sungguh Bukhari dan Muslim sebagai berikut. Riwayat itu juga berkaitan secara sebab turunnya surah an-Nuur bagian 11, sebagaimana dirangkum Jalaluddin al-Suyuthi dalam Luqaabun Nuquul fii Asbaabin Nuzuul .

 

“Apabila Rasulullah hendak mengadakan perjalanan, ” tutur Aisyah, “maka beliau (Rasul SAW) biasanya memilih di antara para istrinya. Siapa dengan namanya keluar, maka dialah dengan ikut bersama beliau.

 

Dalam suatu peperangan, beliau mengundi kami. Karena nama saya yang keluar, saya pun ikut lari bersama beliau. Peristiwa ini terjadi setelah turun wahyu yang mewajibkan hijab.

 

Di sepanjang perjalanan itu, saya pun diangkut di atas tandu dan tentu tinggal di dalamnya.
Kala Rasulullah selesai dari peperangan, oleh sebab itu kami sedang dalam perjalanan pulang. Kami sudah dekat dengan Madinah.

 

Pada suatu malam beliau mengumumkan hendak melanjutkan penjelajahan. Ketika mereka mengumumkan keberangkatan, hamba sedang pergi untuk menyelesaikan hajat.

 

Setelah saya mengakhiri hajat, saya pun hendak kembali ke tandu saya. Namun, hamba menyadari, kalung saya yang hasil Azhfaar telah putus dan lelap. Maka saya pun kembali ke tempat semula (tempat buang hajat) untuk mencari benda itu.

 

Saya masih mencari rantai itu di sana, sedangkan orang-orang yang mengangkut tandu saya telah datang. Mereka pun mengangkat tandu itu ke atas unta. Itu mengira, saya berada di dalam tandu itu.

 

Dasar, umumnya perempuan pada masa itu tubuhnya ringan. Mereka hanya makan sesuap (sehingga jarang berbobot awak berat). Oleh karena itu, para pengangkut tandu itu tidak merasa heran dengan ringannya tandu kala mereka mengangkatnya.

 

Itu tuntun unta dengan tandu tersebut lalu berangkat. Sementara itu, hamba baru menemukan kalung saya sesudah pasukan itu pergi.

 

Ketika saya tiba di wadah peristirahatan mereka tadi, tidak seorang pun kelihatan. Akhirnya, saya menuju tempat istirahat saya semula. Saya pikir, mereka akan menyadari, kami tidak bersama mereka sehingga itu akan kembali untuk mencari saya. Ketika saya duduk di tempat saya, saya merasa mengantuk jadi tertidur.

 

Ketika itulah, Shafwan ibnul-Mu’aththal as-Sulami berjalan di belakang pasukan. Pagi hari itu, ia sampai di tempat kami.

 

Ia melihat seseorang sedang tertidur. Segera ia mengenaliku begitu melihat saya.

 

Dia memang pernah melihat paras saya sebelum diwajibkannya hijab. Saya terbangun mendengar suaranya yang mengutarakan, ‘ Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun ! ‘

 

Saya pun segera menutupi wajah dengan jilbab. Perlu Allah, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun kepada saya. Aku tidak mendengar sepatah kalimat kendati keluar dari mulutnya selain ucapan innalillahi tadi.

 

Dia hanya menundukkan untanya, menginjak kakinya, lalu saya pun menaikinya. Lalu, dia berangkat menuntun unta tersebut sampai kami tiba di gerombolan yang sedang berhenti untuk beradu di siang hari yang terik.

 

Bersambung Data HK