Lapan Duga Ledakan di Buleleng akibat Jatuhnya Asteroid Besar

, , Leave a comment

SEBESAR warga dilaporkan mendengar ledakan pada Buleleng dan kesaksian lainnya tahu benda bercahaya di langit yang jatuh di laut. Seismograf BMKG juga mencatat anomali dengan getaran 1, 1 magnitudo.

“Bila dibandingkan dengan kejadian pada Bone, ada kemiripan sehingga diduga ledakan di Buleleng juga dikarenakan ada asteroid besar yang jatuh. Asteroid itu menimbulkan gelombang kejut yang terdengar sebagai ledakan. Diduga asteroid tersebut berukuran beberapa meter, lebih kecil daripada asteroid dalam Bone, ” ujar Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin saat dikonfirmasi dari Denpasar, Minggu (24/1).

Lapan baru mengetahui ledakan tinggi yang didengar oleh masyarakat Buleleng Bali setelah beredar melalui bermacam-macam fasilitas media sosial dan memiliki info dari pemberitaan media. Ia mengaku pihaknya tidak punya cara pendeteksi meteor di dekat Bali sehingga tidak bisa menentukan ledakan itu berasal dari meteor ataupun bukan. “Kalau benar ada bukti yang melihat bola api yang meluncur disertai ledakan, mungkin tersebut meteor besar atau asteroid dengan memasuki atmosfer yang menyebabkan ledakan akibat gelombang kejut asteroid, ” urainya.

Menurut Thomas Djamaluddin, sesungguhnya fenomena yang sebanding juga sudah pernah terjadi dalam 8 Oktober tahun 2009 dalam Bone Sulawesi. Saat itu masyarakat Bone mendengar ledakan disertai getaran kaca-kaca rumah mereka.

Warga juga melihat jejak tabun di langit. Dugaan Lapan bahwa itu meteor besar
akhirnya mendapat bukti dari peneliti NASA yang menggunakan data infrasound. Bukti infrasound mengindikasikan adanya asteroid anjlok yg diperkirakan berdiameter 10 meter. Belakangan diketahui juga seismograf BMKG terdekat merekam getaran 1, 9 magnitudo.

Kepala Dunia Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wilayah III Denpasar, Daryono mengatakan, terkait beredarnya informasi tentang suara dentuman kuat di Bali, pihaknya segera memeriksa sinyal seismik, khususnya terhadap sinyal seismik lantaran sensor di wilayah Bali. Hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya anomali sinyal seismik yang tercacat di dalam sensor seismik Singaraja (SRBI) di pukul 10. 27 Wita.

“Rekaman seismik ini mempunyai durasi sekitar 20 detik. Melihat anatomi seismogramnya tampak bahwa sinyal seismik tersebut bukanlah merupakan sinyal gempa bumi tektonik. Jika tanda seismik tersebut kita coba tentukan magnitudonya menggunakan formulasi penentuan mangnitudo gelombang gempa akan dihasilkan gaya 1, 1 magnitudo lokal, ” ujarnya.

Sebagai tambahan informasi, bahwa sejak pukul 08. 00 hingga 12. 00 tak ada aktivitas gempa di daerah Bali. Karenanya, dipastikan anomali gelombang seismik tersebut bukan aktivitas gempa tektonik.

Beberapa masyarakat di Kintamani dan Besakih dilaporkan ada yang melihat semacam dengan meteor yang melintas ke arah barat daya. Warga Buleleng yang sedang upacara adat juga mengaku melihat benda melintas di langit. Ada juga warga nelayan pada Pantai Buleleng menjadi saksi tanda fenomena yang sama.

Terkait bunyi dentuman yang terdengar di wilayah Buleleng, BMKG belum dapat
mengonfirmasi penyebab nyata. Namun BMKG sudah berhasil memonitor fenomena tersebut dengan baik serta merekamnya. Jika laporan warga itu benar melihat meteor yang berjalan di atas Bali, fenomena shockwave dengan terjadi telah berubah menjadi aliran seismik yang akhirnya dapat direkam oleh sensor gempa BMKG. (OL-14)