Masih Ada 22 Napi Teroris yang Belum Berikrar Patuh pada NKRI

, , Leave a comment

TIGA puluh empat narapidana kasus terorisme menyatakan diri akan setia pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Mereka membuktikan ikrar atau sumpah taat dengan penyumpah dari Kementrian Agama (Kemenag) di Lembaga Permasyarakatan Narkotika Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Kamis (15/4).

Kakanwil Kemenetrian Hukum dan Ham Jawa Barat Sudjonggo menjelaskan, mereka atau ke-34 yang mengabulkan ikrar setia itu lantaran 56 napi teroris (napiter) yang ada di Lapas Narkotika Gunung Sindur.

“Ini dapat 34 sudah syukur Alhamdulillah. Itu termasuk berhasil, berkat kegiatan sama dengan densus 88, BNPT, pembina agama, secara BIN, “ungkapnya.

Dia mengatakan, masih ada 22 napiter di Lapas Gunung Sindur yang masih menolak. Terhadap mereka, pihaknya tidak akan berhenti & akan terus dilakukan pembinaan.

Membaca juga: 34 Narapidana Terorisme Ucapkan Ikrar Setia NKRI

Dia menyebut, secara keseluruhan di Jawa Barat ada 106 orang. Jumlah tersebut bisa bertambah atau bahkan berkurang, karena mutasi daripada tempat lain atau dimutasikan ke tempat lain.

“Yang 22 belum. Ibarat sekolah, ini membaca dengan usia yang bertentangan. Ada yang cepat, besar bulan, tiga bulan, enam bulan dan seterusnya. Akan tetapi bukan hitungan angka, kesadaran masing-masing, syarat khususnya segar akal pikir, “jelasnya.

Ke-34 napiter yang berikrar, rata- rata masih usia produktif, masih leler muda. Dia berharap nantinya mereka bisa menjalankan kesibukan dengan normal dan memperoleh temat di tengah asosiasi.

“Jangan datang perbuatannya terulang karena perutnya lapar. Hanya karena tak bisa diterima masyarakat, “pungkasnya.

Kalapas Narkotika Gunung Sindur Damari mengucapkan, bahwa proses pengikraran hari itu sudah melalui metode yang panjang.

“Artinya kami telah melangsungkan pembinaan -pembinaan deredikalisasi yang tentu kerjasama dengan densus dengan BNPT, BIN & pihak LSM yang berkompeten dan peduli dengan agenda deredaklisasi, “terangnya.

Dia menyebut mereka dengan berikrar hari itu seluruh terkait dengan jaringan JAD. Ada dari Lampung, Bandung dan dari seluruh Indonesia dan ada juga simpatisan ISIS.

Pada lapas itu, mereka menjalani hukuman mulai dari dengan 5 tahun sampai dengan 2 tahun. Tapi ada juga yang terlama masa hukumannya 10 tahun dari JAD Bandung. Itu ini sudah lebih sebab satu tahun ditahan. Mereka setelah ini akan mendatangi proses pembinaan medium scurity.

“Tapi beta tidak masuk ke danau. Artinya saya lebih mengundang bagaimana dia bisa balik kepangkuan NKRI dan dengan proses permasyarakatan melakukan pengesahan ini. Artinya kami bisa melakukan proses- proses ancangan. Bisa remisi, bisa melaksanakan bebas bersyarat dan benar -hak narapidana lainnya, “ungkapnya.

Salah satunya lanjutnya, adalah bahwa napi teroris sudah menyatakan penetapan setia. Artinya secara ukuran dari hati yang memutar dalam, tidak ada yang memaksa. Artinya mereka sungguh-sungguh ikhlas untuk kembali ke NKRI.

Tempat menjelaskan proses pengikraran berjalan lancar dan mengikuti ataupun menerapkan protokol kesehatan. Cara pengikraran kembalinya mereka buat setia pada NKRI berangkat dari pembacaan sumpah, salut bendera merah putih, mencium bendera merah putih dan tanda tangan pernyataan.

“Satu -satu. Bermakna 34 orang itu, satu -satu menghormat, mencium standar dan tanda tangan. Buat pengucapan ikrar, semua orang membacakan dengan disumpah orang dari kemenag. Dan yang 33 mengikuti ada 3 poin yang diucapkan, “jelasnya.

Damari memandang bahwa pengikraran pada hari itu adalah sejarah terbesar karena dalam satu hari ada sebanyak itu napiter yang berikrar kembali setia pada NKRI. Karena biasanya jumlahnya hanya sedikit & tidak dipublis.

“Ini luar biasa besar sekali. Jangankan untuk ucap ikrar. Mereka untuk salut bendera saja tidak mau. Yang istilah kami jalan merah, radikal dan sedang betul -betul militan. Tetap luar biasa sekali. Lazimnya mereka melawan dengan kita. Melawan dan selalu penentangan, “pungkasnya. (OL-4)