Melayani dengan Kata-Kata

, , Leave a comment

BARANGKALI tak sedikit yang sepaham dengan tulisan berjudul ‘Kemerdekaan Indonesia: Untuk Sapa? ’, yang termaktub dalam buku Seks, Tuhan, dan Negara susunan Soe Tjen Marching.

Sepertinya artikel itu ditulis kurun Indonesia berulang tahun ke-70. Ada beberapa hal diketengahkan. Salah kepala yang paling kentara ialah soalan penindasan, utamanya tragedi di Aceh, Papua, dan Timor Leste yang berlaku pada 1965.

‘Lalu apa artinya perayaan kemerdekaan bila korban dari berbagai kekerasan massa masih ditindas? Bukankah ini justru mengingkari sumpah dari UUD 1945 itu sendiri? ’ (hlm 152).

Penulis memberi refl eksi terkait perayaan kemerdekaan secara kutipan dari Ki Hadjar Dewantara. Kala itu, Ki Hadjar mengecam rencana pemerintah kolonial Belanda yang bermaksud merayakan kemerdekaan di beberapa daerah jajahan.

Bukankah hal itu ironis? Perayaan kemerdekaan di tengah jutaan warga negara yang terampas kemerdekaannya. Artikel ‘Kemerdekaan Indonesia: Untuk Siapa? ’ bukan satusatunya yang mengetengahkan ironi dalam sendi terbitan Global Indo Kreatif itu.

Bahkan, ironi sudah tampak dalam sinopsis dan mukadimah di bagian awal buku, ketika dituliskan, ‘Seks adalah hal yang sedang sering ditabukan, namun negara & Tuhan gemar sekali mengaturnya, terutama terhadap wanita. Perempuanlah yang kerap kali menjadi sasaran berbagai bagi aturan tentang pakaian dan kepribadian seksual’ (hlm 1-2). Sampai di situ pembaca barangkali sudah lulus mendapat pemahaman terkait ide istimewa dalam buku setebal 265 halaman ini.

Namun, ternyata lebih dari sekadar tiga inti seks, Tuhan, dan negara dengan saling bertaut. Banyak bahasan yang diturunkan dari salah satunya. Kunci karya dosen School of Orien tal and African Studies (SOAS) University of London ini dasar merupakan antologi artikel yang
ditulis dalam rentang 2001-2020.

Alhasil, di dalamnya muncul banyak tema yang mungkin bisa jadi tidak berkait antara satu & yang lain. Tiap artikel punya isi bahasan dan tekanan tersendiri. Tetapi, secara garis besar, tiap artikel tetap berada dalam tematema luhur yang menjadi judul buku.

Untuk mempermudah pembacaan, sendi ini terbagi menjadi tiga arah, yakni Seks dan Gender; Negeri dan Kekuasaan; serta Tuhan, Keyakinan, Agama. Ketiganya menjadi pernyataan penulis terkait kondisi kontemporer. Ia melawan dogma dan propaganda dengan kata-kata.

Menarik untuk menanggapi penyataan penulis; bila akal budi sudah dipenuhi oleh dogma, masa cara berpikir sudah dibentuk oleh penguasa, akan dengan mudah dikendalikan untuk memenuhi tujuan tertentu. ‘Karena itu, dengan kata-kata pula, saya mencoba melawan berbagai propaganda dan dogma’ (hlm 3).

Artikel ‘Kemerdekaan Indonesia: Untuk Siapa? ’ adalah bagian dari Negara dan Kekuasaan. Selain itu, masih ada 27 artikel lain. Salah satunya menyorot tentang kewarganegaraan yang dimaknai secara sempit oleh beberapa golongan. Kalau orang Indonesia adalah pribumi, bukan Cina.

Dalam Ahok & Cina, penulis membahas persoalan identitas anak bangsa yang seolah dipecah hanya menjadi dua, yaitu pribumi dan Cina. Ia menggunakan kejadian yang menimpa mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai pintu masuk.

Berkalikali Ahok menekankan bahwa dia adalah orang Indonesia. Seakan tempat harus berjuang hanya untuk memiliki pengakuan tersebut. Padahal berdasarkan UNDANG-UNDANG No 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia, konsep Nusantara asli adalah orang yang menjadi warga negara sejak lahir dan tidak pernah menerima kewarganegaraan lain atas kehendaknya sendiri.

Nyatanya, pandangan miring itu tidak hanya menimpa Ahok, penulis kendati menghadapi hal yang sama. Masa di luar negeri ia lumrah sebagai orang Indonesia, justru pada kampung halaman, ia disebut Cina.

‘Namun, ketika kami pulang ke tempat saya dilahirkan, saya masih disebut Cina’ (hlm 139). Tak hanya berhenti di dalam paparan, penulis juga mengulik aspek sejarah. Ia menyebut sejak kala ke-18 diadakan pemisahan antara itu yang dianggap Cina dan mereka yang disebut pribumi. Hingga era ini, rasialisme yang ditanamkan pemerintah kolonial Belanda masih mempunyai buah luar biasa.

Berefleksi terhadap pandemi yang tengah melanggar dunia kini, penulis pun mengetengahkan diskriminasi dalam konteks yang berbeda, yakni pada spesies lain. Lewat artikel ‘Virus Covid-19 dan Rasisme Kita’, ia mencermati bahwa ternyata manusia tidak hanya dihinggapi kesombongan di dalam sesamanya, bahkan pada makhluk lain pun masih pula jemawa.

“Mungkin dibutuhkan virus kecil untuk mengingatkan kita perlunya merenungkan kecenderungan kita untuk mendiskriminasi khalayak lain -baik yang terkait dengan jenis kelamin, etnis, usia, ataupun spesiesdan dampak dari sikap kita terhadap Bumi’, (hlm 201-202).

Akal busuk

Ramai-ramai soal komunis, penulis juga mencantum satu artikel berjudul ‘Komunis ala Kivlan Zen’. Makin hingga saat ini kalimat peringatan ‘Awas bahaya laten komunis! ’ masih terdengar nyaring.

Seiring dengan seruan itu, penuh berlaku pelabelan komunis secara suka-suka. Sebutan komunis dan PKI pas kerap terdengar di media sosial. Bahkan penulis buku ini serupa sering dilabeli demikian.

Sayangnya, penyemat label tidak cukup punya pengetahuan. Bahkan kalaupun dibeber arti komunis ala mereka, jawabannya bisa membuat ngakak gulingguling. Jadi contoh komunis itu ateis, komunis itu pengkhianat Pancasila, komunis itu kapitalis.

Kecupuan pengetahuan perkara komunis baginya memang disengaja sebab para elite. Definisi komunis dibuat kacau-balau sehingga masih banyak dengan berteriak komunis tanpa tahu makna kata yang mereka teriakkan.

‘Jelas sekali, para elite politik ini tidak ada rencana untuk mencerdaskan masyarakat karena itu sudah tidak segan lagi buat memanipulasi dan mempergunakan kemalasan kaum yang malas mengecek fakta’ (hlm 166).

Lanjut lagi dengan kekuatan politik yang bermaksud dibangkitkan dengan menjual narasi romantis masa lalu melalui slogan. ‘Jadi hanya mereka yang berpikiran jangka pendek saja yang akan percaya terhadap slogan Piye le, enak zamanku? ’ tulis penulis dalam tulisan ‘Piye Le Enak zamanku? Era Rakyat Rindu Penjajah’ (hlm 179).

Menurut Soe, semboyan itu patut dikritisi karena di dalamnya terdapat manipulasi yang sangat berbahaya dan menjerumuskan, yaitu kerinduan terhadap seorang koruptor dan makin salah satu pelanggar HAM terbesar. Hal serupa yang sempat berlaku dalam sejarah Indonesia saat pertama saja merdeka.

Pembicaraan Tuhan dan agama juga menjadi bagian menarik dalam buku ini. Salah satunya dalam artikel ‘Penodaan: Agama dan Tuhan yang mana? ’. Salah satu kutipannya berbunyi, “Bila agama diturunkan demi kebaikan umat manusia, mengapa manusia menjadi tidak manusiawi karena alasan agama? Mereka mengusik kelompok yang dianggap tidak sepaham, baik kelompok ini tidak pernah mengganggu
mereka. Ajaran agama yang tidak memanusiakan manusia adalah masukan yang patut dicurigai’ (hlm 227).

Sekelumit dari bagian pemungkas, ada artikel berjudul ‘Seandainya Hawking Lahir di Indonesia’. Kalau saja ilmuwan kenamaan Stephen Hawking lahir di Indonesia, mustahil dia menjadi Hawking yang selama itu dikenal dunia.

Pasalnya, perawatan medis di Indonesia sedang terbatas. Masyarakat masih belum jadi menerima sosok seperti Hawking dengan ateis. Bila mencari artikel yang berbincang soal seks, ada kurang judul yang menarik, seperti ‘Feminisme: Antara Keharusan dan Pilihan’, ‘Aborsi: “Pro-life” atau “Pro-Choice”? ’, ‘Luna Maya dan Ariel: Pendidikan Syahwat untuk Indonesia’, dan ‘Bahaya Pengutukan
Seks Bebas’.

Di satu artikel yang disebut belakangan, Soe Tjen yang juga seorang novelis dan komposer mempertanyakan pendefinisian seks bebas. Ia bukan bermaksud memungkiri adanya bahaya seks luput yang memang menakutkan, melainkan mendudukkannya secara tepat. Selama ini, hawa yang jadi korban.

‘Tetapi, pengutuk an akan seluruh bentuk seks bebas dan pelarangan kolot akan seks juga membuat risiko lain yang akan dibahas’, (hlm 8). Kumpulan artikel di kunci ini bisa jadi akan mendobrak dialog beku nan kaku yang semasa ini menjangkiti sebagian masyarakat.

Tak dapat disangkal, tampang ini memang ditulis dengan sudut pandang perlawanan. Jangan harap mendapat sesuatu yang mapan di dalamnya. Sebagai pemikir, Soe Tjen Marching telah memilih jalan feminisnya. Baginya, pilihan perempuan bisa tak terpatok dan tak terduga. Feminisme bukanlah pemaksaan bermacam keharusan. Ia (feminisme) membuka kesempatan, ia membebaskan. (M-2)