Memasukkan Kantong yang (Hampir) Kosong

, , Leave a comment

ESKALASI krisis akibat pandemi covid-19 terus meningkat. Bila sebelumnya kritis ini diperkirakan akan memangkas ekonomi global sebanyak 3%, Dana Moneter Internasional (IMF) dalam proyeksi terbarunya menyatakan ekonomi dunia akan turun hingga minus 4, 9% pada tahun ini.

Peristiwa itu sebagai dampak terkait disrupsi yang terjadi dalam kegiatan ekonomi dalam tiap-tiap negara akibat pembatasan kegiatan atau lockdown guna menekan angka penyebaran covid-19.

Indonesia pun sudah mengambil ancang-ancang untuk menghadapi kondisi terburuk. Proyeksi pertumbuhan triwulan II tahun ini telah masuk ke ringkasan paling buruk, yakni mencapai kurang 3, 8 %. Karena itu, pertumbuhan pada akhir tahun hanya bisa mencapai 1% dari sebelumnya 2, 3%.

Pertumbuhan ekonomi merupakan potret di golongan makro. Di level mikro, situasi suram juga terus terjadi. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terus berlaku. Bahkan, fintech papan atas serupa Gojek pun tidak mampu menahan lebih lama lagi guna mengabulkan PHK. Perusahaan penyandang status decacron itu pun harus memberhentikan 430 orang atau 9% dari total pegawainya.

Survei ketahanan keluarga di tengah pandemi covid-19 yang dilakukan Institut Pertanian Bogor (IPB) memotret rentannya masyarakat bagian menengah kita. Dalam survei yang dilakukan pada Maret dan April 2020 dengan melibatkan 1. 337 responden, ditemukan bahwa mayoritas (53%) hanya memiliki simpanan kurang sejak 2 bulan guna memenuhi kebutuhan mereka.

Kondisi bertambah parah tentunya dialami kalangan buruh. Kelompok menengah bawah ini jadi sudah terlebih dulu terjerambap dalam gabungan miskin baru.

Dibanding dunia usaha, jeritan akan keinginan cash juga terdengar. Kas yang mereka punya hanya bisa bertahan hingga pertengahan tarikh ini. Kelanjutan operasional perusahaan amat berpegang dari suntikan dana yang masuk.

Dari masyarakat miskin maka kelas menengah, pelaku usaha kecil dan besar, semua berharap dalam uang dari kantong pemerintah. Wajar, pokok di tengah krisis hanya pemerintahlah yang memiliki infrastruktur guna menolok sumber daya yang ada perlu memenuhi kebutuhan yang ada.

Rencana pemerintah menempatkan biaya Rp30 triliun di empat bank BUMN menjadi sinyal percepatan pemulihan ekonomi. Dengan leverage tiga kali, dana Rp30 triliun dapat menciptakan aliran dana sebesar Rp90 triliun ke masyarakat.

Dengan suntikan kredit modal kerja, kantong pengusaha terisi lagi, proses produksi berjalan, serta pekerja mendapat upah. Upah tersebut akan dipergunakan membiayai konsumsi yang di akhirnya akan menarik kembali permintaan barang-barang produksi lainnya. Karena itu, pada setiap kantong yang berada dalam pertalian ekonomi akan terisi kembali.

Yang menjadi soal ialah derma yang tersedia terbatas. Oleh karena itu, di tengah keterbatasan, kecermatan penyaluran dana menjadi hal dengan perlu dijaga. Jangan sampai dana tersebut menetes ke kantong yang salah sehingga menyebabkan dana itu terhenti & tidak memberi dampak
tambahan. (E-3)