Naomi Osaka Masker Penghormatan

, , Leave a comment

PERTENIS Naomi Osaka, 22, muncul pada pertandingan US Open dengan menggunakan masker bertuliskan George Floyd masa mengalahkan petenis Amerika Shelby Rogers, kemarin.

Masker itu merupakan penghormatan kepada George Floyd yang meninggal akibat dibunuh polisi Mei lalu yang menimbulkan gerakan Black Lives Matter di Amerika Serikat.

Sebelumnya, petenis kelahiran Osaka, Jepang tersebut mengenakan masker bertulisakan Breonna Taylor, tenaga medis yang ditembak mati polisi, Maret lalu, ketika hendak bertanding melawan Misaki Kekasih.

Dia mengatakan kepada USA Today bahwa dia mendatangkan tujuh masker ke turnamen tersebut, per untuk menghormati korban ketidakadilan rasial. Hingga kemarin, ia telah menggunakan masker bertuliskan nama Breonna Taylor, Elijah McClain, Ahmaud Arbery, Trayvon Martin, and Floyd.

“Sangat menyedihkan bahwa tujuh kedok tidak cukup mewakili semua nama, jadi mudah-mudahan saya bisa lulus ke final sehingga Anda bisa melihat semuanya, ” imbuh Osaka beberapa waktu lalu.

Peristiwa itu terjadi hanya kaum hari setelah Osaka absen pada pertandingan. Melalui unggahan akun media sosialnya, Osaka mengaku ia menuruti keluar dari pertandingan untuk menentang penembakan 23 Agustus terhadap Jacob Blake, seorang berusia 29 tarikh yang lumpuh dari pinggang ke bawah setelah polisi menembaknya beberapa kali di depan anak kecilnya di Kenosha, Wisconsin.

“Sebelum saya menjadi seorang atlet, saya ialah seorang wanita kulit hitam, ” jelas Osaka di dalam unggahannya. “Sebagai seorang wanita indra peraba hitam, saya merasa seolah-olah tersedia halhal yang jauh lebih istimewa yang perlu perhatian segera daripada menonton saya bermain tenis, ” tukasnya.

Rasisme

Naomi Osaka, seorang pendukung vokal aliran Black Lives Matter, ialah salah satu dari banyak atlet yang turut mengangkat perhatian publik terhadap moralitas dan penembakan orang kulit hitam oleh polisi.

“Saya ingin semua orang tahu bahwa hal itu sebenarnya bisa dihindari. Ini tidak harus terjadi. Tidak satu pun dari kematian tersebut harus terjadi. Bagi saya, aku merasa seperti saya hanya ingin semua orang tahu lebih banyak tentang namanama itu, ” ujar Osaka tentang nama-nama yang tertulis di masker yang ia kenakan.

Juli lalu, ia menjemput bagian dalam protes dan mengesahkan petisi setelah kematian George Floyd, dan menyerukan perubahan sistemik & komitmen budaya terhadap antirasisme.

“Ini sangat berarti bagi saya bahwa masyarakat mulai mengarungi bahwa kita menghadapi rasisme universal secara langsung, bahwa polisi melindungi kita dan tidak membunuh kita, ” tulis petenis Asia perdana yang menempati peringkat satu sendiri wanita dunia tersebut.

“Namun, saya juga bangga, berasaskan peran kecil yang saya mainkan dalam mengubah persepsi dan opini. Saya suka membayangkan seorang gadis birasial di sebuah kelas pada Jepang yang bersinar dengan besar saat saya memenangi Grand Slam. Hamba sangat berharap taman bermain itu menjadi tempat yang lebih berteman untuknya sekarang karena dia mampu menunjukkan sosok panutan dan bangga dengan siapa dia, serta berangan-angan besar, ” tandasnya. (H-3)