NasDem Restui Anies Pakai Dana PENA untuk Atasi Sampah

, , Leave a comment

Pemangku Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Nova Harivan Paloh setuju dengan rencana Pemprov DKI terpaut penggunaan dana pinjaman Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk penanggulangan kotor.

Salah satu rencana yang akan dihadirkan untuk penanggulangan sampah menggunakan dana PEN tahun depan adalah pembangunan ‘landfill mining’ dan ‘Reduce Derived Fuel’ (RDF) di TPST Bantargebang.

Untuk pembangunan RDF dan ‘landfill mining’ ini Pemprov DKI Jakarta sudah mengalokasikan dana sebesar Rp96 miliar.

“Sementara tersebut, untuk tahun depan dananya Rp600 miliar, ” kata Nova masa dihubungi Media Indonesia, Minggu (22/11).

Anggota Fraksi Partai NasDem itu menyuarakan, total dana dari pinjaman PENA yang keseluruhan yang dialokasikan buat penanggulangan sampah di DKI merupakan Rp1 triliun.

Untuk RDF ini menurutnya adalah salah satu inovasi sejak Pemprov DKI yang harus didukung dalam rangka penanggulangan sampah.

“Nanti membangun ini kapasitasnya seribu ton. Tersebut cukup besar meskipun lebih kecil dari ITF yang berkapasitas dua. 200 ton. Kita tahu tunggal kapasitas Bantargebang sudah sangat lengkap ya. Harus banyak program penanggulangan sampah yang saling disinergikan oleh Pemprov DKI, ” ungkapnya.

Namun, Nova menegaskan Pemprov DKI Jakarta harus berkoordinasi dengan pemerintah pusat terkait penggunaan sokongan PEN untuk penanggulangan sampah.

“Harus ada komunikasinya juga ke pemerintah pusat. Harus tersedia persetujuan, ” ujarnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Unit Pengelola Teknis (UPT) Tempat Pengolahan Kotor Terpadu (TPST) Bantargebang Asep Kuswanto menjelaskan dua fasilitas itu hendak dapat mengolah masing-masing hingga seribu ton sampah per hari.

“Bedanya buat ‘landfill mining’ adalah untuk kotor lama yang sudah ditumpuk serta diproses sedemikian rupa. Sementara buat RDF untuk sampah-sampah baru, segar masuk ke Bantargebang, ” prawacana Asep.

Asep menjelaskan, pembangunan ‘landfill mining’ berkapasitas seribu ton itu menggunakan lahan yang luas.

“Perlu pembebasan lahan kira-kira 1 hektare. Lalu sisanya untuk bangun RDF, ” jelasnya.

Dana pembangunan dua fasilitas pengolahan sampah bersistem ‘waste to energy’ ini akan diajukan dalam pembahasan APBD 2021.

“DKI kan mendapat simpanan pinjaman Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sebesar Rp12, 5 triliun itu. Nah, Rp1 triliun adalah untuk pengolahan sampah. Kita harapkan tersebut bisa dari situ, ” imbuhnya.

Baik ‘landfill mining’ maupun RDF sama-sama menghasilkan gaya yang bisa mensubstitusi energi akik bara yang selama ini banyak digunakan pada industri berat laksana pabrik semen. Sebelumnya, sudah ada ‘landfill mining’ berkapasitas 100 ton yang ada di Bantargebang yang diujicobakan pada salah satu produsen semen dan disambut positif oleh pihak swasta tersebut.

“Alhamdulillah dari uji coba ‘landfill mining’ selama ini, kami mengoper 5 truk per hari itu tidak ada masalah. Hasilnya cantik. Tapi karena ini masih tes coba kami belum bicara perolehan. Nanti setelah ini dibangun gede, terpadu, memiliki market jelas, barulah bisa bicara komersial. Harapannya benar selain bisa mengatasi permasalahan kotor, fasilitas ini juga bisa mengakibatkan pendapatan, ” tandasnya. (put)