Online Learning dan Kesehatan Mental

, , Leave a comment

PANDEMI covid-19 telah membawa modifikasi besar terhadap aktivitas dan karakter masyarakat dunia.

Sayangnya, perubahan tersebut tidak melulu berpengaruh positif, terutama dalam hal kesehatan mental. Kematian, physical distancing, serta kejenuhan selama pandemi menghantui keseharian umum.

Pandemi covid-19 dengan khusus membawa dampak nyata kepada mahasiswa fakultas kedokteran yang kudu melakukan online learning atau pembelajaran langkah jauh (PJJ).

Beberapa dampak itu diungkapkan dalam pengkajian M Czeisler dan kawan-kawan tentang dampak karantina pada kesehatan moral dan perilaku belajar mahasiswa kedokteran ( mental health, substance use, and suicidal ideation during the covid-19 pandemic ) pada Amerika Serikat, 24-30 Juni 2020.

Riset itu mengetengahkan, mahasiswa merasa dampak dari karantina membuat mereka terpisah secara emosional dari keluarga dan teman mengikuti menurunnya kinerja dan waktu belajar.

Menurut penelitian tersebut, 23, 5% mahasiswa kedokteran merasa depresi dan putus asa. Penelitian asing yang dilakukan S Abbasi dan kawan-kawan di Liaquat College of Medicine and Dentistry Pakistan pada Perceptions of Students Regarding E-Learning During Covid19, menyatakan, mahasiswa di sana tidak lebih memilih pembelajaran e-learning daripada pembelajaran tatap muka selama lockdown .

Menuju dari hasil penelitian-penelitian tersebut, saya mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Kemahiran Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atmajaya Jakarta semester 7 sekaligus pengikut blok Ilmu Pendidikan Kedokteran (IPK) juga melakukan survei singkat kepada 182 mahasiswa kedokteran angkatan 2017, pada 15-16 Agustus 2020, meniti kuesioner.

Survei itu antara lain untuk mengetahui apakah selama PJJ, para responden merasakan cemas, stres, dan depresi. Kemudian pertanyaan lain terkait dengan identitas diri. Responden kemudian juga diminta memberikan penjelasan panjang atas isyarat yang mereka alami.

Hasilnya, terdapat 55 responden yang mengisi kuesioner. Sebanyak 40 di antara mereka (22%) mengakui mengalami masalah kesehatan tubuh mental. Di antara mereka ada 23 merasa cemas, 32 merasa khawatir dan stres, dan 4 merasakan gejala ketiganya, yakni cemas, stres, & depresi.

“Tugas selalu muncul tibatiba, bahkan di asing jam kuliah. Pernah saat hamba mau tidur pukul 22. 00 atau 23. 00 WIB, tiba-tiba tugas muncul dan harus dikerjakan saat itu juga karena deadline pukul 04. 00, ” sirih satu diantara responden berinisial A Semenjak PJJ, lanjutnya, semua serbadigital.

Hal itu membuat dosen bahkan teman-teman semakin tidak cakap waktu kapan harus istirahat & kapan harus bekerja atau belajar.

“Karena hal tersebut, saya merasa kurang istirahat, screen time saya juga bertambah semenjak PJJ. Hal ini membuat saya hanya tidur 3-4 jam sehari dan hal tersebut menurut saya menimbulkan depresi, ” jelas responden A dalam kuesionernya.

Kebosanan sebabkan stres

Setelah mengolah data hasil survei, kelompok kami mewawancarai psikiater dr Mahaputra SpKJ, Selasa (18/8). Menurutnya, ada tiga hal dengan dapat menyebabkan mahasiswa mengalami masalah mental saat online learning.

Baru, mahasiswa merasa seperti terjebak di rumah. Rasanya seperti tidak tersedia kesempatan untuk keluar rumah, terutama bilamana pembatasan sosial berskala tumbuh (PSBB) awal. Jadi, kebosanan yang terjadi lambat laun menciptakan tekanan.

Kedua, perbedaan masa kuliah tatap muka langsung dan saat pembelajaran jarak jauh. Keberadaan bertemu empat mata jauh bertambah membuat pesertanya merasa lebih terhubung jika dibandingkan dengan hanya bersemuka melalui layar. Kemudian, ketiga, karena takut akan penyakit covid-19.

“Online learning memang memayahkan dan menjadi sebuah tantangan perdana untuk kita semua. Beberapa orang mungkin merasa lebih lelah ketimbang biasanya karena rasanya seperti tidak ada celah untuk bernapas, ” ujarnya.

Namun, tambah Mahaputra, coba lihat kembali apa dengan dapat kita lakukan sekarang. Oleh karena itu, kita harus sama-sama berjuang, baik dari mahasiswa maupun dosen.

Tidak tersedia yang menginginkan covid-19 terjadi sehingga kita harus mendukung satu sebanding lain untuk kuat menghadapi transformasi baru. Jangan saling menuntut serta harus saling memahami. Musuh utama bukanlah online learning-nya, melainkan pandeminya. (M-2)