Orang-Orang yang Dijemur

, , Leave a comment

SUARA gemercik air menjadi sebagian yang mengiring suara sang narator. Secara bersamaan, layar pun menampilkan lukisan abad ke-17, yakni karya Michiel Sweerts (1618–1664) berjudul Plague in an Ancient City.

Sang narator membaca deskripsi lukisan yang banyak dikutip dan dipercayai mengambarkan wabah besar yang pernah melanda Athena, ibu kota Yunani, pada 430 SM. Lukisan itu memperlihatkan warga Athena yang sebagian telanjang di altar-altar kuil. Michiel Sweerts terkesan melakukan rekonstruksi atas catatan Thucydides, sejarawan Yunani yang dilanda wabah dan mencatat orang-orang yang terjangkit penyakit. Thucydides mencatat bahwa tubuh mereka yang membara seperti terbakar membuat sebagian dari mereka membiarkan tubuhnya telanjang.

Bermula dari lukisan, sang narator melanjutkan narasi sejarah wabah. Ia menyampaikan narasi yang lebih tua tentang wabah dalam Iliad karya Homeros (sekitar 700 SM). Karya sastra itu memberitakan tentang penyebab wabah yang menimpa pasukan Yunani dalam perang Troya.

Berlanjut ke narasi berikutnya, yang menceritakan perkembangan pengetahuan manusia tentang wabah. Narator menyebut nama Claudius Galen (129-216 M) yang pernah mengalami wabah antonine pada 165 M di Roma. Ia tercatat sebagai penemu istilah wabah sebagai epidemi mematikan.

Layar pun gelap, suara gemercik air juga hilang. Jika dalam pertunjukan panggung berlaku mekanisme perpindahan adegan ataupun babak, begitu pula dengan pertunjukan daring. Gambar gelap dan suara hening tiba-tiba menjadi penanda masuk pada bagian berikutnya.

Begitulah pembuka dalam pertunjukan daring bertajuk Jemuran Orang yang dimainkan Artery Performa di channel Youtube Budaya Saya pada Rabu (7/4).

Berikutnya, layar terpecah menjadi tiga bagian dengan latar yang menggambarkan kondisi pandemi covid-19. Satu bagian menunjukkan seseorang mencuci empon-empon. Bagian lain menampilkan foto hitam-putih dengan siluet seseorang sedang menari. Terakhir, seorang wanita tidur di tempat tidurnya hingga bangun dan beraktivitas.

Cukup mudah dimengerti bahwa pertujukan itu ingin memotret kondisi sosial saat pandemi covid-19. Lalu, mengapa judulnya Jemuran Orang?

Pimpinan Artery Performa Dendi Madiya mengungkapkan judul itu bermula dari pengamatannya tentang kondisi sekitar tempat tinggalnya saat pandemi covid-19. Hampir semua orang jadi sering berjemur, termasuk keluarganya.

“Ketika saya melihat itu, saya merasa itu kejadian unik karena belum pernah terjadi sebelumnya. Ketika saya melihat itu, saya merasa itu mereka sebenarnya sedang dijemur oleh korona (virus) dan alam mengobati mereka, matahari mengobati mereka,” terangnya.

Peran Afrizal

Dendi melihat perilaku warga itu hampir mirip seperti jemuran pada umumnya. Karena itu, jadilah judul Jemuran Orang. “Mereka juga seperti benda-benda yang dijemur, seperti kasur, baju, atau jahe,” tambahnya.

Dendi juga berdiskusi dengan Afrizal Malna tentang virus korona. Dendi terngiang dengan pernyataan Afrizal tentang korona yang sebenarnya menjelaskan manusia tidak tahu apa-apa tentang di luar dan di dalam tubuh mereka sendiri.

“Dan manusia itu cuma bisa takut, ketakutan, dan menciptakan ketakutan-ketakutan sendiri,” ujar Dendi menirukan ucapan Afrizal. Saat situasi wabah covid-19 memaksa pekerja seni untuk membatalkan pentas, justru Artery Performa memilih untuk menyiasati kondisi itu. Hasil pengamatan itu lalu bertranformasi menjadi bentuk pertunjukan. Dendi mengajak para pemain untuk menerjemahkan ide tersebut dalam bentuk pertunjukan.

Pada intinya, pertunjukan itu berusaha menampilkan aktivitas keseharian warga yang terdampak pandemi. Selain itu, juga menyampaikan ada tanggung jawab sosial yang harus ditepati untuk mencegah penyebaran covid-19, termasuk kampanye pembatasan fisik dan tetap di rumah saja.

“Sebenarnya menampilkan teater sehari-hari saja sih. Jadi, bagaimana kita mencoba menghadapi situasi wabah ini dengan terus mencoba memperhatikan tanggung jawab sosial kita,”.

Pertunjukan itu melibatkan tujuh seniman yang terdiri atas 5 pemain, 1 penyusun teks narasi, dan 1 operator. Pengambilan gambar dilakukan di tiga lokasi yang dikirim melalui aplikasi Skype, lalu dibingkai dan disiarkan melalui kanal Youtube. 

“Tiga lokasi itu live, dijahit, lalu dimasukkan ke Youtube. Jadi real time,” sambung Dendi.

Pertunjukan daring memang belum lazim di Indonesia. Artery Performa pun mendapati sejumlah kendala, terutama kendala teknis dan koneksi internet. Apalagi, mereka tidak berhubungan secara langsung. Selama persiapan, mereka hanya komunikasi virtual. “Akhirnya video dari saya agak patah-patah,” tegasnya.

Mereka juga menjumpai kesulitan saat latihan. Dua kali latihan masih ada bagian yang dirasa masih perlu disesuaikan. Kendala jaringan memaksa mereka untuk berkompromi. Bahkan, pada satu bagian, pertunjukan itu hendak memakai suara asli dari lokasi pengambilan gambar.

Ketika diterapkan, justru suara noise yang dominan. Akhirnya mereka memutuskan untuk memakai musik latar. ‘Sehingga anak sekolah tidak jajan sembarangan’, begitu secuplik suara yang muncul dari sela musik.

Pertunjukan teater daring sudah pasti bersingungan dengan disiplin lain, salah satunya video. Menurut Dendi, persoalan itu yang harus dipecahkan. Bagaimana megoptimalkan penggunaan media agar mencapai hasil estetik yang diharap. Meski demikian, hambatan itu justru menjadi cerminan kondisi saat ini.

“Bagaimana seniman atau pegiat teater bisa menaklukkan kondisi saat ini. Itu inti persoalan,” pungkasnya. (M-4)