Orkestra Pemuda Bangsa

, , Leave a comment

TAHUN 2015 menjadi pertama kalinya Muhammad Bintang Alfaridzie menjajal audisi Gita Bahana Nusantara (GBN), pergelaran orkestra yang tampil saat perayaan 17 Agustus oleh Istana Negara. 

Namun, tahun itu Alfa gagal. Tak putus asa, ia mencoba lagi pada 2017. Kali itu, ia sukses masuk jajaran tim GBN, mengisi pos instrumen piano. 

GBN terdiri atas tim paduan suara, tim orkestra, dan tim aubade. Setiap tahun, personelnya ialah mereka yang lolos audisi di seluruh provinsi di Indonesia. Namun, tahun ini, seleksi ditiadakan lantaran pandemi covid-19. Alhasil, GBN 2020 diisi angkatan tahun sebelumnya.

Alfa yang tahun lalu kembali mengikuti audisi dan lolos, tahun ini berkesempatan terlibat lagi dalam GBN. Menjadikan pengalamannya ini sebagai kali ketiga.

“Sulitnya, ya, karena memang bersaing dengan banyak musikus. Audisi orkestra dilaksanakan di Jakarta dan Yogyakarta, jadi memang dipusatkan di dua kota ini, dan untuk piano, hanya diambil satu orang,” cerita Alfa tentang pengalamannya tersebut kepada Muda, Selasa (11/8).

Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu mengatakan, untuk persiapan tahun ini, ia sudah menerima materi sejak 8 Mei. Ia diminta membuat video, kemudian diberikan kembali materi lagu, dan harus merekam video kembali.

Tahun ini, para personel GBN juga tidak tampil bersama dalam satu panggung. Pergelaran orkestra GBN dilakukan secara virtual pada perayaan HUT Proklamasi RI, 17 Agustus esok.

“Tantangannya, kita benar-benar harus jeli atau teliti terhadap partitur dan panduan musik yang diberikan karena kita selalu dikasih arahan oleh pelatih kita,” tambah Alfa.

Kendala rekaman

Kisah lain dialami salah satu tim paduan suara bagian tenor, Moch Noer Fajri Amir Sidik Lamporo. 

Dengan latihan virtual selama kurang lebih tiga bulan, Fajri bersama rekan-rekan seprovinsinya di Sulawesi Tenggara mengalami kendala sinyal saat pengiriman video.

“Kadang kita butuh berkali-kali dan mencari spot (sinyal) yang bagus untuk kirim pengiriman videonya. Apalagi seperti di provinsiku, pada waktu perekaman itu masuk musim penghujan. Jadi, sinyal menjadi salah satu faktor utama keterlambatan pengumpulan video,” ceritanya dalam kesempatan terpisah pada Muda.

Sama seperti yang dialami Alfa, sebelum tergabung dalam tim GBN, Fajri sempat gagal berkali-kali. Pertama kali ia mencoba ikut audisi pada 2016. Pada 2018, dirinya mengikuti audisi lagi, tetapi belum juga berhasil bergabung dengan tim yang tahun ini berusia 17 tahun.

“Saya memberanikan diri lagi dan mencari pelatih yang siap mengajari saya untuk persiapan audisi GBN 2019. Pelatihku selalu memberikan semangat dan memberikan kalimat yang jadi acuan buatku. 

Katanya ‘tidak ada proses yang mengkhianati hasil’. Alhamdulillah, tahun lalu saya lolos mewakili suara tenor. Pengalaman gagal itu saya jadikan cambukan dalam menggapai yang saya inginkan,” tambah mahasiswa Universitas Tadulako Palu itu.

Susah sinyal juga dialami Agustin Nengsi, tim paduan suara bagian alto. Namun, Agustin yang berdomisili di Malinau, Kalimantan Utara, itu juga mengaku punya kendala lain saat perekaman video. 

“Selain sinyal, sebenarnya tenggat pembuatan video itu juga singkat sekali. Ditambah, kuota internet dan banyak gangguan dalam pembuatan video seperti bising yang bisa mengganggu kualitas rekaman karena kami diharuskan merekam nya di tempat yang tidak ada gangguan suara (sunyi),” paparnya.

Seperti Alfa dan Fajri, Agustin tak cukup sekali mengikuti audisi GBN. Ia pertama kali ikut proses seleksi pada 2017. Gagal. Tahun lalu, ia mencoba lagi sembari menunggu hasil dari pendaftaran pendidikan kepolisian. Sayangnya, ia belum diterima untuk seleksi pendidikan. Namun, ia mendapat pelipur lara dengan keberhasilannya bergabung dalam GBN 2019.

Musikalitas

Meski sempat gagal beberapa kali, para anggota GBN ini menganggap sebenarnya audisi tidak sesulit yang dibayangkan. 

Namun, yang perlu menjadi catatan, memang calon peserta harus punya bekal  musikalitas yang baik. “Saya berasal dari anggota paduan suara yang memang sudah terbiasa dengan kegiatan bernyanyi dan membaca not pada partitur lagu.  Sebelum mengikuti audisi ada baiknya kalau kita sudah sering mengasah kemampuan kita terlebih dahulu karena itu yang akan jadi penilaian dan penentuan lolos tidaknya kita pada saat audisi,” ungkap Agustin yang sudah menjadi anggota paduan suara sejak SMP.

Kemampuan membaca not balok atau not angka juga menjadi keniscayaan bagi calon peserta GBN. Menurut Fajri, jika kemampuan itu sudah dikuasai, sisanya akan lebih mudah. “Jadi, syarat utama itu selain bisa bernyanyi dan tembak nada, ya, kita juga harus pandai membaca not balok atau not angka.” 

Sementara itu, Alfa yang tahun ini menjadi tahun ketiganya sebagai anggota GBN, saat SMA dia sudah punya bekal dari sekolah musik di SMM (Sekolah Menengah Musik) Yogyakarta. Namun, persaingan menjadi pianis di GBN disebutnya lebih ketat karena hanya satu yang terpilih.

Ajang bergengsi

Tampil di Istana Negara saat upacara kemerdekaan dan menjadi wakil dari provinsi, tentu menjadi cita-cita banyak anak muda.

Fajri bahkan mengaku sudah memimpikannya sejak masih remaja. Ia mengenang dirinya selalu menunggu penampilan
pasukan pengibar bendera dan orkestra GBN.

“Menjadi salah satu bagian dari itu dan kita bisa terlibat langsung dalam memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia. Itu yang jadi salah satu alasan saya ingin sekali menjadi bagian dari Gita Bahana Nusantara,” kata Fajri.

“Dulu pengin banget karena memang GBN menurutku ajang yang bergengsi. Tentunya juga ingin banget bisa ikut serta dalam tugas negara di peringatan Hari Proklamasi,” tambah Alfa. (M-2)