Padat Suara, Lagu Keroyokan menyambut Ramadan

, , Leave a comment

Corak Kedap Suara menjadi proyek keroyokan banyak pihak. Selain vokalis Barasuara Iga Massardi dan. Feast, juga membabitkan rapper Laze, Kamga, Natasha Udu (Lomba Sihir) dan duo produser dari Martials/ (Rayhan Noor dan Enrico Octaviano), dan Tristan Julio (Mantra Vutura).

Digarap selama kurun tiga pekan, Kedap Suara diperuntukkan sebagai lagu tematik bulan berkat, atau yang kerap kali identik dengan lagu religi. Namun, saat mendengar Kompak Suara, lagu tersebut lulus ‘advance’ jika sekadar disebut sebagai lagu ramadan.

Sebab, baik secara tema, lirik, dan perkakas, terdengar berbeda dengan lazimnya lagu religi ala bulan berkat. Enrico Octaviano, Rayhan Noor, dan Tristan Juliano menjadi trio yang memproduseri order lagu yang disokong maklumat streaming Joox ini.

Untuk lirik, ditulis Baskara (vokalis. Feast, Hindia, Lomba Sihir). Sementara Kamga didapuk sebagai pengarah vokal dan arranger. Pengisi vokal di lagu ini, selain Baskara dan juga Kamga, tentunya ada Iga Massardi, Natasha Udu (Lomba Sihir), dan Laze mengisi periode rap.

“Dikasih referensi lagu dari Tristan, gue mencari nadanya memang agak enggak biasa. Tersebut seperti kontemporer dan middle east dicampurin. Lalu pelajaran itu dilempar ke lainnya, ” kata Enrico, dengan memproduseri Kedap Suara, era konferensi pers virtual, Rabu, (7/4).

“Gue iseng-iseng isi gitarnya, spontan. Dan merasa energi lagunya itu, kalau biasanya gaya yang bunyinya ada pesan baiknya itu kan mendayu-dayu ya. Tapi ini semangat, plus ramean pula, ” tambah Iga Massardi.

Meski merilis lagu yang bertepatan dengan momentum, bagi Iga jelas. Kedap Suara diharapkan juga tidak sekadar lagu yang hanya didengarkan saat ramadan dan serta-merta dikategorikan sebagai rani religi.

“Kalau didengarkan pada waktu asing, akan jadi punya keterangan yang juga universal. Harapannya sih seperti itu sungguh, ” kata Iga.

Sementara itu, Baskara mengatakan, lagu yang selalu serupa mantra, diharapnya bisa menjadi pesan yang terinternalisasi di kepala pendengarnya. “Lagu kan kadang kayak ilmu, kalau diulangi liriknya tiap hari, dan terinternalisasi, lulus suka dengan pesannya itu akan ada terus di kepala, ” kata Baskara.

Senada secara Iga, Baskara menilai meski lagu yang dirilis di dalam momentum tertentu seperti jelang ramadan, baginya yang bertambah relevan adalah ketika gaya itu juga punya umur yang tidak hidup zaman masih ada momentum. Si produser, Enrico pun merodok bentuk lagu ini selalu tidak ingin sekadar disematkan sebagai lagu religi ramadan.

“Bikin pembawaan enggak harus spesifik buat satu occasion tertentu. Tercampak lagunya tuh bisa diputar kapan pun, ” cakap Enrico. (M-2)