Petugas Sita Rp56, 8 Miliar lantaran Sindikat Penipuan

, , Leave a comment

BADAN Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri mengungkap kasus penipuan terkait dengan pembelian ventilator dan monitor covid-19 oleh sindikat internasional senilai Rp58, 8 miliar.

Kabareskrim Polri Komjen Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan kekejaman itu dilakukan dengan modus peretasan e-mail yang menjadi media komunikasi jarang perusahaan Tiongkok sebagai penjual dan perusahaan Italia sebagai pembeli.

“Modus bussiness e-mail compromise ataupun hacking e-mail , yaitu dengan cara mem- bypass komunikasi e-mail kurun perusahaan Italia dan
kongsi China, ” kata Listyo, kemarin.

Kejadian itu berasal saat perusahaan Italia, Althea S. p. A, melakukan kontrak jual beli dengan perusahaan Tiongkok, Shenzhen Mindray Bio Medical Electronics Co Ltd, untuk pengadaan ventilator dan monitor covid-19. Pembayaran disepakati kaum kali ke rekening Bank of China atas nama perusahaan Tiongkok itu.

‘’Kemudian ada seseorang yang mengaku GM (general manager) dari perusahaan tersebut menginformasikan bahwa terjadi perubahan rekening terpaut dengan masalah pembayaran, ’’ ujar Listyo.

Setelah pemberitahuan tersebut, perusahaan Althea sempat tiga kali transfer dana ke bon perusahaan fiktif itu di Bank Syariah Mandiri dengan total 3. 672. 146, 91 euro atau setara dengan Rp58, 8 miliar. Korban kemudian melaporkan kasus itu ke NCB Interpol Italia dan selanjutnya Interpol Italia melaporkan ke Interpol Indonesia.

Listyo mengatakan, setelah didalami, Polri pun menangkap tiga tersangka berinisial SB, R, dan TP di letak yang berbeda. Adapun satu simpulan warga negara asing yang ialah otak kejahatan kini masih target. Barang bukti yang telah disita berupa uang senilai Rp56, 1 miliar pada rekening penampungan, 1 mobil Nissan X-Trail, 1 mesin Honda Scoopy, aset tanah dan bangunan, serta dokumen lainnya.

Pakar forensik digital Nusantara Ruby Alamsyah mengatakan, untuk memitigasi agar kasus seperti ini tak terjadi, perusahaan harus meningkatkan kesadaran pentingnya keamanan siber. Selain itu, perusahaan harus mengonfirmasi ulang pembicaraan yang sudah dilakukan. (Ykb/Ind/X-10)