PPDB Jangan Renggut Hak Anak

, , Leave a comment

KISRUH jalur zonasi pada arahan peserta didik baru (PPDB) tarikh ajaran 2020/2021 di DKI Jakarta meruncing. Keluhan muncul dari orangtua murid yang menilai sistem zonasi lebih mengutamakan usia ketimbang jeda dari rumah ke sekolah untuk penerimaan murid baru.

Ini misalnya diutarakan aktris Yessy Gusman, 57. Menurutnya, anaknya gagal masuk ke SMAN 55 yang ada di dekat rumah. Padahal, nilai rata-rata anaknya 84, 04. “Ada namanya, dia diterima, status 32 dari 65, tetapi setengah jam kemudian hilang namanya. Terpinggirkan
sama yang lebih sampai umur dengan nilai NEM di bawahnya, ” kata Yessy, kemarin.

Endang Wisprihatini, 55, mengaku bernasib sama. Putranya yang berusia 15 tahun 6 bulan patah pucuk masuk SMAN 21. Padahal, jangka rumah ke SMA hanya 700 meter. Selain itu, putranya memiliki nilai rata-rata 87, 8. Kekacauan galur zonasi membuatnya sampai mengadu ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Pengaduan juga menyembul di Kota Bojonegoro, Jawa Timur. Puluhan orangtua meminta Dinas Pelajaran Bojonegoro memverifikasi ulang dokumen pendaftar karena ada kecurangan titipan tulisan keterangan domisili. “Banyak orangtua menitipkan anak di kartu keluarga (KK) saudara mereka yang dekat dengan sekolah. Masak satu KK ada empat siswa yang didaftarkan, ” ujar seorang wali murid yang enggan disebut namanya.

Wakil Sekjen Federasi Serikat Pengasuh Indonesia, Fachri Tanjung, meminta Mendikbud Nadiem Makarim turun tangan. Ia juga menyebut Dinas Pendidikan DKI Jakarta harus ditegur karena lengah menerjemahkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 44/2019 tentang PPDB.

“Faktor usia itu digunakan ketika jarak tempat status satu calon peserta didik terakhir ke sekolah tujuan sama secara calon peserta didik baru yang lain, ” tegas Fachri.

Sementara itu, Komisioner KPAI Tempat Pendidikan, Retno Listyarti, menyebut pihaknya sudah menerima pengaduan terkait etika usia
di PPDB. KPAI lalu berkoordinasi dengan Plt Itjen Kemendikbud Chatarina M Girsang. Solusinya, antara lain, menambah jumlah kursi per
kelas atau mulai rombongan belajar di setiap sekolah.

KPAI juga telah memanggil Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Hasilnya, Disdik DKI Jakarta akan memberi bantuan melalui rencana kartu Jakarta pintar bagi siswa yang tidak mampu secara ekonomi, tetapi harus masuk ke sekolah swasta akibat tidak lulus PPDB. Disdik DKI Jakarta juga akan mengevaluasi kebijakan PPDB dan berkonsultasi dengan Kemdikbud terkait kebijakan leler dalam PPDB 2020.

Di sisi lain, Kepala Ombudsman Perwakilan DKI Teguh Nugroho mengatakan tak menemukan pelanggaran regulasi & malaadministrasi mengenai PPDB di DKI Jakarta.

Mayoritas usia

Biro Pendidikan Provinsi DKI Jakarta kemarin mengumumkan hasil PPDB jalur zonasi jenjang SMP-SMA. Secara akumulatif, bahan peserta didik baru (CPDB) SMP yang di terima pada rel zonasi tahun ini 31. 011 siswa dan SMA 12. 684 siswa. Jalur ini 40% dibanding kuota siswa baru yang diterima.

“Hingga ditutupnya pendaftaran jalur zonasi, terdapat 92, 4% siswa dalam rentang usia biasa, yaitu 15-16 tahun untuk status 1 SMA yang
diterima. Usia tertua yang diterima, 20 tahun, hanya 0, 06% (7 siswa), ” kata Kadisdik Daerah DKI Jakarta, Nahdiana.

Sebaran usia SMA yang diterima lewat jalur zonasi, yaitu 16 tahun 52, 8%, 15 tahun 39, 7%, 13-14 tahun 0, 2%, usia 17 tahun 6%, dan 18-20 tahun 1, 4%. Sementara itu, siswa SMP, 96, 9% usia 12-13 tahun yang diterima. Sebaran penerimaan siswa SMP ialah 14-15 tahun 2, 8%, 13 tahun 29, 6%, 12 tahun 67, 3%, dan 10-11 tahun 0, 3%. (Put/Aiw/Sto/Faj/X-11)