Ramadan dan Doa

, , Leave a comment

BULAN Ramadan adalah bulan penuh keutamaan dengan selalu dinantikan setiap umat muslim. Tetapi, Ramadan tahun ini sangat bertentangan dengan tahun-tahun sebelumnya karena dihadapkan pandemi covid-19.

Kegiatan-kegiatan ibadah ritual yang pada status normal diselenggarakan secara semarak di masjid/surau, kali ini harus dilakukan pada rumah masing demi kemaslahatan pengikut manusia; mempersempit gerak wabah covid-19.

Sesungguhnya hal tersebut tidak akan mengurangi makna ibadah di hadapan Allah Mahatahu, semasa dasar dalam melakukannya ialah sebab keikhlasan. Justru Ramadan kali itu ialah saat tepat untuk menghapuskan hati sembari memohon kepada-Nya agar pandemi segera berakhir.

Makna berkah

Marhaban yaa Ramadhan. Marhaban syahru-shiyam. Allahumma bariklanaa fi rajabi wa sya’ban wa balighnaa ilaa Ramadhan . ’ Dari doa tersebut ada dua hal dengan diminta seorang hamba, yaitu curahan berkah dari Sang Khalik serta dipertemukan dengan Ramadan.

Berkah secara harfiah dimaknai ‘sesuatu yang berlimpah kebaikan’ (Al-Qurtubi) untuk bani adam karena anugerah (nikmat) dan ‘kebaikan Sang Khalik kepada hambanya’ (Al-Maraghi). Penulis Barat menyebut berkah sebagai ‘ beneficent force, of divine origin, which causes superabundance in the physical sphere and prosperity and happiness in the psychic order’ (Gibb et. all: 1986)

Ada dua jenis berkah, yakni berkah jiwa (albarakaatur ruhaniah) dan kebahagiaan materi (albarakatul maaddah) (Al-Quthan). Kita mengharap keselamatan dan ketenteraman ataupun keamanan dalam kehidupan (Arrazi), mendapat ilmu yang bermanfaat dan petunjuk dari Allah SWT (Ayatut Tafasir), dikabulkan doa-doa kita oleh-Nya ialah berkah rohaniah (Almawardi).

Kita memohon berkah dari Ar-Raazaq, limpahan rezeki dalam berbagai ukuran, seperti pendapatan, hujan yang menjadikan tanah pertanian dan tumbuh-tumbuhan subur, tak ada hama yang mengganggunya, men panen yang berlimpah, serta tiadanya kekeringan atau kemarau panjang menimpa, juga ternak-ternak kita, seperti domba, kambing, sapi, kerbau, kuda, mandung, dan itik, juga ikan berkembang biak dengan baik menjadi sumber rezeki kita.

Kita berharap mendapatkan penghasilan dari lengah pencaharian yang halal dan bermanfaat, kedamaian dan kemudahan dalam kehidupan dan kesehatan. Itulah jenis berkah dengan acap kali diminta kita. Jenisjenis berkah ini merupakan cerminan dibanding pemahaman manusia yang sangat terbatas, yakni dalam bentuk materi, kebahagiaan maadah (Sayyid Aththanthawy, Al-Mawardi, A’qaam Zaidiyah, Athsisy ‘Iyaadli, Al-Baghwy, Al- Uluusy; AR-Raazy, Al-quththan, Al-Lubaab, & Al-Manaar).

Padahal pertolongan Allah, sebagaimana ditegaskan Ibnu A’thiyah, tidak terhingga banyak dan ragamnya. Misalnya saja, manusia sering tak dapat memahami bahwa selamat sebab bahaya, malapetaka, merupakan bentuk pertolongan (rezeki matababh syaamilah).

Keutamaan Ramadan

Permintaan kedua yaitu balighnaa ila Ramadhan (dipertemukan balik dengan Ramadan). Mengapa kita menginginkan dipertemukan
dengan Ramadan ataupun kita sangat merindukan bulan bersih ini?

Ramadan berpangkal dari kata yang berarti (membakar) atau sangat panas. Kata-kata tersebut digunakan dalam bahasa Arab periode (kuno). Pengertian membakar menunjukkan dalam bulan tersebut badan, hati ataupun rasa terbakar oleh panas suhu yang mengakibatkan lapar dan haus karena pada umumnya (di negeri Arab), Ramadan jatuh pada musim radang. Juga kata membakar menunjuk keterangan kiasan (majazi), yakni kata Bulan berkat diartikan sebagai pembakaran diri lantaran dosa-dosa (Ibnu ‘Ajibah; Al-Bahr).

Dosa-dosa dibakar dengan melakukan perbuatanperbuatan baik (amal saleh) (Al-Bahr). Seorang mukmin akan menggunakan waktunya untuk melakukan kegiatan baik pada berbagai bentuk dan jenis dalam perhubungan dengan Sang Khalik dan perhubungan sesama manusia dan makhluk lainnya jadi kesibukan tersebut tidak memberi peluang kepada bisikan-bisikan atau dorongan nafsu setan untuk melanggar ketentuan Allah. Oleh karena itu, Ibnu Katsir menganjurkan penegasan bahwa puasa dapat ‘mempersempit celah/peluang atau jalan setan’.

Ramadan diberi sebutan beragam dilihat dari fadhilah atau keutamaannya. Al-Qusyairi menyebutkan beberapa sebutan Ramadan, yakni pertama, bulan (permulaan) Kitab suci alquran diturunkan, sebagai petunjuk bagi pribadi dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk tersebut dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Alquran merupakan asas bagi muslim-mukmin dalam mengarungi kehidupan dunia untuk mendapatkan kebahagiaan alam baka. Kedua, bulan takarub, munajat, serta doa-doa hamba-hamba Allah dikabulkan.

Ketiga, bulan rahmah & nikmat dari Allah diturunkan & disebarkan atau tercurah serta melimpah. Keempat, bulan kemenangan dan kesempatan atau peluang terbuka untuk mendapat banyak pahala.

Kelima, kamar diringankan beban-beban dan diangkat status hamba Allah. Keenam, bulan dibukakan risalah-risalah (mafaatihu al-khithaab). Ketujuh, bulan pendidikan atau pembersihan jiwa atau rohani itahdzibun nufusatau tazkiyatun nufus atau tarbiyatu ruhaniah ).

Bertemu Ramadan

Kita wajar bersyukur masih diberi kesempatan bertemu dengan Ramadan kali ini. Rasa syukur perlu diwujudkan dalam bentuk pengamalan, yaitu (a) bil lisan secara selalu mengucapkan kalimat thayyibah, seperti alhamdulillah, (b) meneguhkan keyakinan bahwa apa yang kita peroleh semata-mata anugerah dan milik Allah, serta bersifat fana atau tidak abadi jadi dalam diri kita tidak lahir sikap pongah atau superior dan mengecilkan orang lain, dan (c) menunggangi anugerah Allah dengan sebaik-baiknya dengan melayani amaliah yang bermanfaat bagi orang penuh sebagai perwujudan dari kasih sayang (syafaqah).

Oleh karenanya, pertanyaan reflektif tersebut menjadi bahan bagi kita untuk melakukan perbaikan kepada sikap, tingkah laku, dan perangai kita dalam hablun min Allah dan hablun min annaas. Untuk itu, kita harus berusaha keras (mujahadah) menjalankan ibadah shaum sesungguhnya dan berusaha keras mengamalkan ‘makna puasa dan Ramadan’ secara berkesinambungan dalam kehidupan.

Dalam masa pandemi covid-19, memberi bantuan pada orang yang mengalami kesulitan dalam kehidupan sehari-hari atau mematuhi protokol kesehatan dengan menjaga kesehatan tubuh pribadi dan orang lain, adalah perwujudan rasa syukur.

Dengan kata lain, ada hubungan yang berkesinambungan antara pelaksanaan ibadah ritus dan manifestasi (perwujudan) dalam kepribadian, sikap, dan tindakan atau amaliah dalam hablun min annas /relasi dengan sesama manusia (termasuk alam raya & makhluk lainnya).

Seorang yang telah menjalankan ibadah shaum Ramadan sejati akan menampilkan tabiat dan amaliah yang bermanfaat bagi banyak orang (khaiirun naas anfa’uhum linnaas ) mengikuti tidak melakukan tindakan yang berlawanan secara ketentuan Allah, seperti merugikan orang penuh. Wallahualam.