Ramai-Ramai Berdamai dengan Covid-19

, , Leave a comment

PETUNJUK menjaga jarak, penggunaan masker, serta protokol kesehatan lainnya terus berlaku demi memutus mata rantai penyebaran virus korona baru (covid-19). Kedisiplinan masyarakat dalam mematuhi aturan menjelma kunci suksesnya.

Tersebut juga sejalan dengan pernyataan Presiden Joko Widodo, yaitu masyarakat sementara harus hidup berdamai dengan covid-19 sampai ditemukannya vaksin yang efektif. “Dengan pembatasan sosial berskala gede, masyarakat masih bisa beraktivitas, namun memang dibatasi dan masyarakat selalu harus sadar membatasi diri, tak boleh berkumpul dalam skala besar, ” kata Jokowi, Kamis (7/5).

Pelaksanaan protokol kesehatan tubuh itu berlaku hingga ke klasifikasi takjil gratis. Ini berlangsung kurun lain di Kecamatan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, awal pekan ini. Dalam rangka menerapkan aturan senggang fisik di tengah pandemi covid-19, warga, yang mengantre untuk memperoleh takjil gratis, berdiri di kecil penanda garis kuning.

“Ini untuk edukasi kepada masyarakat soal physical distan cing. Tetap boleh keluar rumah, tetapi tidak perlu berdesak-desakan, ” ujar Nick Nurahman, salah satu penggerak takjil gratis.

Adapun di Denpasar, menjelang penerapan Peraturan Wali Kota tentang Pembatasan Kegiatan Umum, 102 pedagang yang biasa berjualan di pelataran Pasar Kumbasari dipindah ke Pasar Badung. Tujuannya ialah ada jarak antara satu penyalur dan pedagang lainnya.

“Antara satu lapak dan yang lainnya diatur jarak sekitar satu, 5 meter supaya pedagang serta pembeli tidak berkerumun. Semuanya serupa harus memakai masker, ” cakap Dirut Perumda Pasar Sewaka Dharma Pasar Badung, IB Kompyang Wiranata, kemarin.

Penataan semacam berlangsung di Pasar Pagi dalam Pangkalpinang, Bangka Belitung, dan Pasar Balauring di Lembata, NTT. Gubernur Provinsi Bangka Belitung, Erzaldi Rosman Djohan, meminta pedagang ditata.

Pun Pasar Balauring telah kembali dibuka sejak tutup sebulan lalu. Bupati Lembata, Eliazer Yentji Sunur, memastikan pedagang dan konsumen mengikuti protokol kesehatan, yaitu melindungi jarak, memakai masker, serta menyarung tangan dan sering mencuci lengah. “Kalau ini berjalan bagus, membentuk bisa jalan terus. Pasar tidak ditutup supaya aktivitas berjalan serupa biasa, ” ujar Sunur.

Namun, sejumlah pedagang memerhatikan masalah kurangnya sanksi terkait penyerasian jarak. Niko, salah satu distributor sayur di Pasar Tugu, Bandar Lampung, mengatakan aturan itu terkesan formalitas. “Yang diatur jaraknya cuma pedagang emperan di depan, tatkala yang dalam tetap seperti biasa. Soal sanksi juga tidak ada, ” ungkapnya.

Angkutan ijmal

Angkutan penumpang tidak lepas lantaran penerapan pembatasan sosial berskala gede. Di Makassar, angkutan kota yang dikenal dengan nama pete-pete sudah membatasi jumlah penumpang mereka. Kejadian itu diceritakan Nawar, warga Kelurahan Bontoduri. “Saat naik pete-pete sopirnya
bercerita, sekarang hanya bisa mengangkut lima penumpang dari biasanya 10 orang sekali jalan, ” ujarnya.

Hal selaku berlaku untuk angkutan kota pada Kota Kupang, NTT. Baris perdana hanya boleh ditempati sopir & satu penumpang. “Kalau ada tiga tempat duduk, di bagian pusat harus kosong. Kalau dua wadah duduk, salah satunya harus polos, ” kata Kepala Dinas Relasi NTT, Isyak Nuka. (DD/RF/PT/RS/AS/LN/YP/BY/EP/PO/Ifa/Ant//X-11)