Terbuka Biaya Operasi Pemenangan Gugatan Lahan Pertamina

, , Leave a comment

TIGA foto dokumen tulisan tangan diterima Media Indonesia . Dokumen tersebut diduga hitung-hitungan beban operasional untuk memenangkan gugatan lahan yang dikuasai PT Pertamina (persero) di Bulevar Pemuda, Jakarta Timur, pada kurun 2013-2014.

AR, yang pernah disebut sebagai cukong dalam kasus ini, mengakui keberadaan ketiga dokumen tersebut.

“Dana operasional berasal sebab saudara Lukman yang telah dikembalikan Pak Malkan (pengacara penggugat), ” kata tempat.

Lukman Nurhakim yang disebut AR tidak menjawab saat Media Indonesia meminta konfirmasi sejak Rabu (24/3).

Tengah itu, pengacara Malkan Frans Bouw, kemarin, mengatakan tidak menjadi kuasa hukum ahli waris ketika gugatan diajukan. “Jangankan biaya operasional, jadi pengaruh saja tidak. Bagaimana barangkali saya tahu. ”

“Saya jadi kuasa ahli waris hanya buat melawan gugatan yang diajukan Arry Iriana Supandi dalam PN Cianjur, PN (Jakarta) Timur, dan PN (Jakarta) Pusat. Hanya itu. Hati-hati pertama yang diajukan pakar waris dari PN Timur sampai PK dan kemudian eksekusi, kuasanya orang asing bukan kantor saya, ” lanjut Malkan.

Eko Djasa Bagiyo, mantan pegawai Pertamina, kepada Media Indonesia kemarin, mengaku pernah melihat dokumen hitung-hitungan itu. Eko juga pernah berkomunikasi dengan AR yang melegalkan keberadaan dokumen itu.

Asisten Manager Land Dispute Pertamina pada 2010-2018 yang kini dalam perlindungan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) karena pernah menjadi whistleblower untuk kasus korupsi lahan Pertamina dalam Simprug, Jakarta Selatan, tersebut menduga coretan itu adalah biaya operasional sejak mewujudkan konstruksi gugatan hingga berdiam pemenangan di PN.

“Artinya, saya memaknai dokumen itu sejak depan gugatan semua dilakukan dengan sengaja ada upaya penipuan. Mulai unsur menyediakan tulisan tanah yang diduga dibuat sebagai dasar gugatan, ” katanya.

Eko menunjuk ada catatan ke Kodam, BPN, dan proses peradilan. “Mereka sudah berkoordinasi dengan peluru yang agak besar. Semua pengeluaran dibanding cukong disetujui dengan tanda tangan ahli waris, ” ujarnya lagi.

Oleh karena itu, pria yang kini menjadi pekerja Volunteer Anti Korupsi (VAK), LSM yang mengedukasi masyarakat untuk berani melaporkan korupsi, menyimpulkan ada proses uang sogok dan gratifikasi di proses peradilan perdata ini hingga menang di tingkat PN, PT, MA, hingga ke PK.

“Apalagi proses eksekusi dengan memblokir rekening Pertamina hingga pencairan ke ahli waris sebab PN Jaktim berlangsung segera. Tanpa ada sinergi yang baik, kemenangan gugatan ini tidak akan terproses sehingga membuat uang Pertamina Rp244, 6 miliar raib, ” tandasnya. (Ars/X-3)