Tidak Perlu Takut, Pemerintah Jamin Ketenangan Vaksin Covid-19

, , Leave a comment

MASYARAKAT tidak perlu ragu dengan keamanan vaksin. Pasalnya, jaminan keamanan vaksin langsung dilakukan pada tiap fase uji klinik, sehingga produk akhirnya diperkirakan aman, efektif, dan berkhasiat. Pengasuh Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Cissy Rachiana Sudjana menjelaskan, dalam tahap awal, produsen vaksin mengidentifikasi dahulu calon vaksin yang bermaksud dibuat. Calon vaksin yang terbatas adalah yang mampu menghasilkan maujud antibodi terbaik.

Zaman sudah aman dan menghasilkan zat antibodi yang kuat, terutama di uji pra klinik yang diujicobakan pada hewan, barulah pengujian diteruskan ke uji klinik pada pribadi. Fase uji klinik pada bani adam terbagi menjadi tiga tahap. Di dalam fase I dimaksudkan untuk menguji keamanan dan ke-efektifannya.

“Fase I ditujukan untuk menguji respons imun pada sekelompok karakter dengan jumlah di bawah 100. Ketika fase I aman & efektif, maka dilanjutkan ke periode II untuk diuji keamanan dan efikasinya lebih jauh lagi pada jumlah subyek 400-600 orang, ” kata Cissy pada acara Perbincangan Selasa: Mendalami Vaksin dan Imunisasi, yang diselenggarakan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) di Jakarta, Selasa (27/10)

Apabila fase II sudah aman, bisa lanjut ke fase III untuk mengetahui apakah ada efek samping yang jarang terjadi yang biasanya muncul saat diujikan ke jumlah subyek yang mencakup ribuan atau puluhan ribu karakter. Setelah melalui uji klinik fase III dan tidak terdapat hasil samping, maka vaksin tersebut ditetapkan aman, efektif, dan berkhasiat.

Lebih lanjut Cissy menjelaskan bahwa, pada fase III itu biasanya pengujian vaksin dilakukan dalam beberapa Negara (multi center). Fungsinya untuk mengukur efektivitas serta efikasinya. Efikasi merupakan langkah observasi buat mengetahui besaran daya perlindungan vaksin terhadap infeksi. Setelah melewati fase-fase tersebut, regulator yang dalam situasi ini BPOM di Indonesia, bisa menerbitkan izin edar setelah menyimak data-data uji klinik tersebut. Inspeksi keamanan vaksin terus dilakukan tercatat saat vaksin sudah digunakan dengan resmi. Ini yang disebut periode IV atau Post Marketing Study.

Tidak seperti halnya vaksin lain yang pengembangannya perlu waktu bertahun-tahun, vaksin covid-19 relatif singkat pengembangannya sekitar 12-18 kamar, karena telah mendapat izin dari para ilmuan dan regulator. Untuk mempersingkat pengujian, uji klinik fase I dan II dilakukan bersamaan namun tetap mengutamakan faktor kebahagiaan.

Selain imunisasi istimewa untuk mencegah penyakit, kecacatan, had kematian, juga dapat mencegah transmisi penyakit ke lingkungan sosial yang lebih luas lagi.
Rencana inilah yang disebut herd immunity atau imunitas populasi, yakni zaman sebagaian besar populasi di imunisasi. Besaran cakupannya tergantung kemampuan penularan virus atau bakteri. Makin cepat penularannya, makin membutuhkan cakupan yang besar.

“Jadi jika banyak orang di sekeliling kita diimunisasi, yang tidak bisa mendapatkan imunisasi karena berbagai sebab serupa, ada penyakit, terlalu muda untuk diimunisasi, atau tidak mendapat akses ke vaksin, jadi ikut terproteksi, ” ujar Cissy.

Untuk covid-19 diperkirakan kecepatan penularannya atau Reproductive Number (Ro) menyentuh 2 hingga 5 kali. Secara daya penularan sebesar itu, imunisasi covid-19 harus tercapai 60-70% sejak populasi agar tercipta herd immunity.

“Saya mengharapkan seluruh masyarakat terutama media yang mampu memberikan edukasi, untuk mengedukasi kelompok kita bahwa vaksin adalah jalan paling efektif untuk menurunkan kesakitan, kematian dan juga kecacatan. Biayanya juga paling cost effective. Kita lakukan demi Indonesia, semoga anak-anak kita bisa sehat dengan imunisasi yang sesuai dengan ketentuan, ” bebernya.

Vaksin terlihat oleh Edward Jenner pertama kali pada tahun 1796 untuk mengobati penyakit cacar (smallpox). Sejak zaman itu vaksin terus dikembangkan sebab diakui dan terbukti dapat menyekat penyakit yang disebabkan oleh virus atau bakteri tertentu. Vaksin merupakan antigen atau zat aktif pada virus dan bakteri yang apabila disuntikkan, dapat menimbulkan reaksi bentuk kekebalan tubuh untuk melawan virus atau penyakit tersebut.

“Jadi kalau vaksin itu merupakan zatnya. Proses pemasukkannya ke di tubuh disebut vaksinasi. Imunisasi ialah reaksi dari tubuh kita setelah mendapatkan vaksin. Badan akan dirangsang untuk membentuk anti bodi di sistem kekebalan tubuh, ” sah Cissy.

“Selain antibodi, badan akan menghasilkan sel memori, jadi sistem kekebalan kita mampu memproduksi antibodi untuk segala ragam penyakit yang tidak baik, ” imbuhnya.

menangkap juga: Kawan Vaksin Dideklarasikan di Hari Sumpah Pemuda

Dampak imunisasi terhadap turunnya penularan penyakit tercatat sangat besar. Beberapa vaksin berhasil menekan penyebaran penyakit tertentu seperti haemophilus influenza, radang paru, penyakit gondok, rubella, hingga tifus. Semua penyakit tersebut menurun jumlah penularannya, seiring dengan dilakukannya imunisasi. (OL-3)