Waspadai Bencana saat Puncak Musim Hujan

, , Leave a comment

BADAN Nasional Penanggulangan Kesusahan (BNPB) mencatat sebanyak 2. 676 bencana alam terjadi di Nusantara pada periode Januari
hingga 10 Desember 2020. Memasuki puncak musim hujan tahun ini, BNPB mewanti-wanti publik agar waspada secara potensi bencana hidrometeorologi dengan mengantisipasinya sejak dini bersama keluarga.

“Siap siaga terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Persiapkan diri & anggota keluarga dengan mulai mengenali risiko di sekitar, ” sirih Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Asli, kemarin.

Raditya mengambil data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut puncak musim hujan terjadi pada Januari hingga Februari 2021. BMKG juga melaporkan anomali iklim La Nina terpantau masih berlaku di Samudra Pasifik dengan intensitas level moderat.

La Nina dapat memicu curah hujan dengan jauh lebih tinggi dibandingkan suasana normal. Potensi bencana susulan lain harus diwaspadai seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor.

Menurut Raditya, BNPB telah mengirimkan arahan kesiapsiagaan kepada seluruh awak penanggulangan bencana daerah (BPBD) pada
seluruh provinsi. Sosialisasi pencegahan perlu segera dilakukan guna menekan dampak bencana.

Tempat mengingatkan pencegahan harus tetap mendahulukan protokol kesehatan dengan memakai kedok, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun. Hal ini diperlukan agar tidak muncul masalah baru, yakni klaster covid-19 saat menghindari bencana.

Untuk itu ketersediaan logistik kesehatan untuk menutup protokol harus tersedia di tempattempat rawan bencana. Logistik tersebut untuk pihak-pihak yang terlibat terutama relawan, tenaga kesehatan, maupun warga yang terdampak bencana.

Pola berulang

Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Lilik Kurniawan di acara dialog daring bertema Literasi kebencanaan pada Indonesia: Apa Perlu?, kemarin, mengatakan pada umumnya bencana alam pada Indonesia merupakan peristiwa yang berulang.

Artinya, bila hari ini terjadi bencana alam maka 10 tahun lagi kejadian yang sama bisa terulang. Atau tamsil lainnya yang sudah menjadi rutinitas ialah bencana hidrometeorologi setiap tahunnya selalu menimpa Tanah Air.

“Bila suatu daerah terkena banjir maka tahun depan akan terulang lagi jika tidak ada intervensi sejak pemerintah setempat atau penanganan kesengsaraan tersebut. “Tentu saja intervensinya buat jangka panjang yang kita sebut pencegahan dan mitigasi, ” katanya.

Pada kesempatan tersebut dia mengingatkan saat ini ada empat gunung api yang sedang erupsi. Tentu saja kondisi itu menggugat semua pihak terutama masyarakat kudu siap siaga bila terjadi petaka.

Dengan mengedepankan menemui kesiapsiagaan tadi, maka harapannya tidak akan ada korban jiwa kelanjutan letusan gunung api maupun bencana yang lain di Tanah Air.

Lilik mengatakan sebagai negara dengan berada di wilayah rawan bala, masyarakat Indonesia tidak bisa mengelak atau menghindar. Namun, setidaknya upaya-upaya pencegahan atau mitigasi jatuhnya target harus tetap dilakukan. (Medcom. id/Ant/H-1)